Fluktuasi tajam membayangi prospek harga emas global dengan kecenderungan tetap kuat dipicu oleh tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat pada Senin (25/5/2026).
Tren bullish terjadi sepanjang kuartal I/2026 karena tingginya permintaan aset safe haven saat terjadi lonjakan harga energi dan ketatnya kebijakan suku bunga global, sebagaimana dilansir dari Market.
Pergerakan komoditas ini sempat tertekan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, sebelum akhirnya menunjukkan kecenderungan rebound terbatas dalam sepekan terakhir.
"Data perdagangan terbaru harga emas global berada di kisaran US$4.550 per troy ons. Pergerakan harga masih cukup volatil seiring pasar terus mencermati perkembangan negosiasi damai AS-Iran, arah kebijakan Federal Reserve, dinamika dolar AS, hingga pergerakan harga minyak dunia," ujar Tiffani Safinia, Research & Development ICDX.
Penurunan harga minyak dunia dan berkurangnya kekhawatiran inflasi global berpotensi terjadi apabila ketegangan di Selat Hormuz mereda, sehingga permintaan terhadap emas ikut berkurang.
“Oleh karena itu, pasar saat ini masih akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik, inflasi AS, serta arah kebijakan moneter global,” kata Tiffani Safinia, Research & Development ICDX.
Pelaku industri domestik merespons situasi ini dengan memperkuat ekspansi distribusi produk logam mulia bersertifikasi karena harga yang dinilai masih menarik.
Sertifikasi SNI pada produk logam mulia memberikan potensi likuiditas yang baik untuk memudahkan masyarakat melakukan buyback dengan harga kompetitif dan transparan.
Aliran modal global menuju komoditas ini sebagai safe haven asset juga dilaporkan Bank Indonesia masih terus berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Hal ini menunjukkan bahwa emas masih menjadi salah satu instrumen yang dipilih untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang," kata Ivan Lingga, Direktur PT Lotus Lingga Pratama.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·