Sudan dan Etiopia Terancam Perang Terbuka Pascaserangan Drone

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Ketegangan antara Sudan dan Etiopia meningkat tajam setelah pemerintah militer Sudan menuduh Etiopia serta Uni Emirat Arab memfasilitasi serangan pesawat nirawak di Bandara Khartum pada Selasa, 5 Mei 2026. Langkah ini memicu penarikan duta besar Sudan dari Addis Ababa untuk konsultasi diplomatik menyusul ancaman konfrontasi militer langsung.

Sistem pertahanan udara Sudan melaporkan telah menjatuhkan sejumlah drone yang menyasar fasilitas militer dan bandara di ibu kota pada Senin lalu. Saksi mata mengonfirmasi terjadinya ledakan di wilayah pemukiman yang berbatasan dengan bandara, menandai kembalinya pertempuran ke pusat kota Khartum sejak militer mengambil kendali penuh pada Maret 2025.

Menteri Luar Negeri Sudan, Mohleddin Salem, bersama juru bicara militer, Asim Awad abd al-Wahab, mengungkapkan adanya bukti fisik bahwa drone tersebut diterbangkan dari Bahir Dar, wilayah Amhara, Etiopia. Mereka menegaskan bahwa perangkat keras militer tersebut disuplai oleh Uni Emirat Arab melalui wilayah Etiopia untuk mendukung kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

"Kami secara resmi mengumumkan keterlibatan Uni Emirat Arab dan Etiopia dalam pemboman bandara Khartum," tegas Mohleddin Salem dan Asim Awad abd al-Wahab.

Pemerintah Sudan menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Pernyataan ini mencakup opsi tindakan militer jika provokasi asing terus berlanjut di wilayah kedaulatan mereka.

"Kita siap menghadapi semua skenario, termasuk konfrontasi militer langsung," tambah kedua pejabat tersebut.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Etiopia menolak keras tuduhan tersebut dan balik menuduh Sudan mendukung reorganisasi kelompok pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Addis Ababa mengklaim bahwa Sudan memberikan basis bagi pasukan anti-Etiopia untuk mengganggu stabilitas di wilayah utara mereka.

"Sejumlah bukti kredibel membuktikan bahwa Sudan berfungsi sebagai pangkalan bagi pasukan anti-Etiopia," ujar perwakilan Kementerian Luar Negeri Etiopia.

Pihak Etiopia juga mensinyalir adanya pengaruh kekuatan eksternal, yang merujuk pada Mesir, dalam kebijakan luar negeri Sudan saat ini. Rivalitas antara Mesir dan Etiopia terkait proyek Bendungan Renaisans (GERD) di Sungai Nil Biru memperkeruh situasi keamanan di kawasan tersebut.

"Sudan sedang diinstrumentalisasi oleh kekuatan luar," pungkas pernyataan resmi dari Addis Ababa.