Menyimpan dana di rekening tabungan saat ini tidak lagi menjadi jaminan mutlak dalam menjaga nilai kekayaan seseorang. Di tengah bayang-bayang inflasi dan fluktuasi nilai tukar rupiah, daya beli masyarakat berisiko tergerus secara perlahan meskipun saldo nominal tetap stabil.
Dikutip dari Money, Rista Zwestika selaku perencana keuangan dan Founder Finante.id menjelaskan bahwa nilai riil uang dapat menyusut setiap tahun. Fenomena ini terjadi jika aset hanya disimpan dalam bentuk kas atau instrumen tabungan dengan bunga rendah.
Penyebab utamanya adalah kombinasi antara laju inflasi domestik serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Rista memberikan perbandingan antara laju kenaikan harga barang dengan bunga bank yang tersedia saat ini.
"Dari sisi inflasi, ketika laju kenaikan harga berada di kisaran 4-5 persen per tahun, sementara bunga tabungan hanya sekitar 1-2 persen, maka secara riil nilai uang mengalami penurunan," ujar Rista.
Ia memaparkan ilustrasi di mana tabungan sebesar Rp 100 juta dengan bunga 2 persen, sementara inflasi mencapai 5 persen. Dalam kondisi tersebut, nilai riil uang turun sekitar 3 persen dalam setahun, sehingga daya beli setara menjadi Rp 97 juta.
Selain faktor domestik, pelemahan rupiah terhadap dollar AS turut memperbesar risiko penurunan nilai kekayaan. Hal ini terutama berdampak signifikan terhadap harga barang-barang impor serta kepemilikan aset global.
Jika terjadi pelemahan rupiah dari Rp 15.000 menjadi Rp 16.500 per dollar AS atau sekitar 10 persen, nilai uang terhadap aset global ikut terkoreksi. Kondisi ini membuat strategi menyimpan uang secara konvensional perlu ditinjau ulang.
"Jadi menabung saja biasanya tidak cukup untuk mempertahankan nilai uang dalam jangka panjang," kata Rista.
Meskipun demikian, Rista menegaskan bahwa tabungan konvensional tetap memegang peranan penting dalam struktur keuangan pribadi. Namun, fungsinya harus dibedakan dan bukan ditempatkan sebagai alat investasi utama.
Tabungan lebih ideal dialokasikan untuk kebutuhan yang bersifat likuid, seperti dana darurat, transaksi kebutuhan harian, atau target jangka pendek. Sebaliknya, tabungan kurang efektif dalam menjaga nilai kekayaan karena bunga yang berada di bawah angka inflasi.
"Masih relevan, tetapi fungsinya berbeda. Tabungan sebaiknya untuk dana darurat kebutuhan likuid jangka pendek transaksi harian. Bukan untuk mempertahankan nilai kekayaan dan investasi jangka panjang," ujar Rista.
Sebagai solusi, diversifikasi aset menjadi strategi krusial untuk melindungi nilai uang dari berbagai ketidakpastian ekonomi. Penggabungan beberapa instrumen dianggap mampu memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi pemilik modal.
Beberapa instrumen yang direkomendasikan memiliki karakteristik berbeda. Emas misalnya, berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi, sementara aset berbasis dollar AS berperan melindungi dari pelemahan mata uang lokal.
Di sisi lain, saham menawarkan potensi pertumbuhan pendapatan untuk jangka panjang, dan Surat Berharga Negara (SBN) memberikan stabilitas serta pendapatan tetap bagi investor. Karakteristik aset yang beragam ini mencegah kerugian total saat salah satu sektor melemah.
"Diversifikasi penting karena setiap aset memiliki karakteristik berbeda dan tidak bergerak dalam arah yang sama," tutur Rista.
Terkait momentum pembelian aset dollar AS saat rupiah melemah, Rista mengingatkan bahwa faktor timing sangat menentukan. Pembelian saat rupiah sudah di level terendah bisa berisiko jika kemudian terjadi penguatan kembali.
Rista memberikan gambaran bahwa pembelian dollar di level Rp 16.500 yang diikuti penguatan rupiah ke Rp 15.800 dapat memicu kerugian sekitar 4 persen. Strategi yang lebih bijak adalah melakukan pembelian secara bertahap atau dollar cost averaging.
"Karena itu biasanya lebih baik membeli bertahap atau dollar cost averaging dan tidak menaruh seluruh dana di dollar AS," kata Rista.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (16/4/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot masih berada di atas level Rp 17.100 per dollar AS. Mata uang Garuda ditutup menguat tipis 0,03 persen ke level Rp 17.138 per dollar AS.
Angka penutupan tersebut menunjukkan kenaikan 4 poin jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan Rabu yang berada di level Rp 17.143 per dollar AS.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·