![]()
20 Mei 2026 23.38 WIB • 2 menit

Pascakunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, ke Beijing tanggal 13-15 Mei 2026, banyak yang menayangkan jika Presiden Trump membawa 17-18 Chief Executive Officer atau CEO perusahaan-perusahaan raksasa Amerika Serikat. Biasanya, dalam suatu kunjungan kenegaraan seorang presiden membawa delegasi yang sebagian besar dari berbagai kementeriannya. Namun kali ini di Tiongkok, Trump justru membawa para pemimpin perusahaan skala dunia. Banyak yang menanyakan apa tujuannya membawa orang-orang kaya dunia itu bertemu Presiden Tiongkok.
Bagi para pengkritik sepak terjang Donald Trump, mereka berpendapat bahwa barisan para CEO yang mendarat di Tiongkok dan bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping,—mungkin bagi Trump merupakan sebuah pameran kekuatan bisnis negara superpower ini. Namun bagi Tiongkok, rombongan CEO itu merupakan sebuah “Map of Dependency” atau Peta Ketergantungan negara Amerika Serikat berikut para oligarkinya kepada Tiongkok. Perlu diketahui, Trump-lah yang menginginkan pertemuan dengan pemimpin Tiongkok, bukan sebaliknya.
Pada saat perwakilan Tiongkok bertemu dengan delegasi bisnis AS sebagai bagian dari kunjungan itu, banyak yang tidak tahu bahwa ternyata setiap CEO itu ditugasi untuk “meminta” deal. Persisnya, Donald Trump meminta para CEO itu untuk mendesak pemerintah Tiongkok berkenan membuka kesempatan bisnis bagi Amerika Serikat. Salah satu delegasi itu adalah CEO perusahaan pesawat terbang Boeing. Perusahaan raksasa ini akan kehilangan pesanan pesawat terbang dari Tiongkok apabila tidak ada campur tangan politik. Memang Xi Jinping berjanji pada Trump untuk membeli sekitar 200 pesawat terbang komersial baru. Namun perlu diketahui, Tiongkok itu sampai tahun 2045 perlu membeli 9.000 pesawat komersial baru. Jadi, 200 pesawat dari Boeing itu hanyalah sebagian kecil dari kebutuhan Tiongkok.
Sementara itu, CEO Nvidia memerlukan keberlanjutan akses cip dari Tiongkok agar perusahaan ini mampu survive, karena dulu pangsa pasarnya di Tiongkok 95 persen dan sekarang turun menjadi 0 persen. CEO Tesla, Elon Musk ,juga meminta akses agar mobil listriknya bisa masuk pasar Tiongkok. Musk pun menyaksikan bahwa penjualan mobil listrik Tiongkok BYD sudah melampaui penjualan Tesla.
Seorang profesor AS yang berkunjung ke Tiongkok terkejut dengan perkembangan cepat di Beijing di mana ada perusahaan mobil listrik Xiaomi, joint venture Mercedes Benz dengan BAIC memproduksi mobil listrik, dan Peking University sebagai Harvard-nya Tiongkok. Di Wuhan ada Optical Valley Laser Manufacturing, MIT-nya Tiongkok yaitu Huazhong University of Science and Technology, di Shenzhen ada BYD, dan di Hangzhou ada Alibaba AI Cloud.
Para pemimpin bisnis raksasa AS itu mengakui bahwa menurunnya ekonomi, perdagangan, dan daya saing itu dikarenakan oleh sikap politik Amerika Serikat yang tidak bersahabat dengan menerapkan tarif, sanksi ekonomi, dan perdagangan, ditambah dengan keputusan ilegalnya menyerang Iran (karena diperintah Israel) sehingga angka inflasi mencapai 3,8 persen dampak naiknya BBM. Industri pertahanan AS juga kalang kabut karena sangat tergantung pada bahan baku dari Tiongkok. Mereka tahu Tiongkok itu produsen bahan-bahan tambang penting seperti copper, nikel, aluminium, tanah jarang, lithium, mangan, dan sebagainya terbesar di dunia.
Kalangan kiri di Amerika Serikat berpendapat bahwa barisan CEO perusahaan Amerika Serikat di Beijing, Tiongkok itu menunjukkan bahwa Amerika Serikat itu pada dasarnya dikuasai para oligarki, pemilik modal yang tidak mencerminkan kepentingan rakyat bawah Amerika Serikat.
Mereka sebelum kunjungan dimulai sudah memprediksi bahwa “China will have upper hand” atau tangan Tiongkok berada di atas, sementara tangan Amerika Serikat/Donald Trump berada di bawah sebab tujuan kunjungan delegasi Amerika Serikat adalah memohon pertolongan dari Tiongkok termasuk soal bagaimana membuka Selat Hormuz di Teluk Persia saat ini.
Hal itu berarti bahwa “China is in commanding position” atau Tiongkok di posisi yang memberikan perintah atau komando, sedangkan Amerika Serikat “is in commanded position” atau di posisi yang diperintah. Maklum saat ini jumlah kelompok menengah di Tiongkok itu terbanyak di dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.
Tim Editor
Terima kasih telah membaca sampai di sini
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·