Tenggat Teguran MSCI Dekat, OJK dan Bursa Benahi Struktur Pasar

Sedang Trending 2 hari yang lalu

JAKARTA, KOMPAS.com - Tenggat waktu terkait teguran Morgan Stanley Capital International (MSCI) sudah semakin dekat. Bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan keseriusan dalam membenahi struktur pasar dan menerima masukan-masukan dari para pelaku pasar.

Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia Rizki Ardhi mengatakan, ketersediaan data yang lebih granular dan transparan, serta keterbukaan informasi yang jauh lebih baik, merupakan perkembangan yang sangat positif bagi pasar.

Ketika asumsi terburuk terjadi, Indonesia akan mengalami penurunan kelas dari emerging market ke frontier market.

Dalam skenario terburuk tersebut, tentunya akan ada tekanan jual yang besar dari investor asing yang harus melakukan penyesuaian portofolio. Di sisi lain, ada pula investor yang mencari peluang untuk membeli saham di valuasi yang sangat murah.

Ia menjelaskan, market clearing event akan terjadi. Hal itu adalah sebuah momen atau situasi ketika penawaran (supply) sama dengan permintaan (demand) dalam suatu pasar, sehingga menghasilkan keseimbangan harga dan semua pesanan beli dapat dipenuhi oleh pesanan jual.

"Oleh karena itu, investor sebaiknya fokus memosisikan portofolio di saham-saham yang memiliki fundamental yang baik dengan valuasi yang murah, yang mampu menghasilkan free cash flow yang bisa digunakan untuk membagikan dividen ataupun melakukan buyback," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (17/4/2026).

Ia menambahkan, saham-saham ini memiliki probabilitas yang lebih besar untuk menarik perhatian investor saat valuasinya turun.

Namun demikian, Rizki bilang, dalam skenario yang lebih positif atau ketika konflik geopolitik mereda dan MSCI mempertahankan Indonesia sebagai bagian dari saham emerging market, investor dapat menerapkan strategi yang berbeda.

"Saham-saham yang sensitif terhadap dollar AS dan harga minyak mentah dunia akan bergerak naik lebih cepat. Namun dalam jangka panjang, kami melihat sektor konsumsi yang sudah cukup murah bisa menjadi positif dengan penurunan input cost seperti biaya bahan baku dan operasional, serta percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia," terang dia.

Di sektor komoditas, ia menyebut, ada beberapa komoditas yang memiliki defisit atau tren struktural, seperti tembaga, aluminium, dan emas, yang mana produsennya akan diuntungkan.

Dalam mengelola portofolio reksa dana saham, Manulife Aset Manajemen menerapkan diversifikasi yang optimal dan memosisikan portofolio untuk jangkauan skenario yang luas.

Komoditas dan energi menjadi sektor yang bisa memberikan perlindungan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah yang meningkat.

Selain itu, harga energi memiliki kecenderungan untuk tetap tinggi beberapa waktu ke depan dan banyak negara-negara yang mulai bergerak untuk melakukan diversifikasi energi ke sumber lainnya, seperti batu bara dan juga biodiesel.

Sementara untuk sektor komoditas akan lebih selektif. Pasalnya secara garis besar permintaan akan turun akibat risiko stagflasi, tetapi ada beberapa komoditas yang berada dalam kondisi defisit atau pasokan lebih sedikit dibandingkan potensi permintaan ke depan.

Hal tersebut terdorong olehperubahan tren yang lebih struktural seperti transisi energi bersih, elektrifikasi, dan lain-lain.

"Sektor domestik seperti konsumsi juga sudah cukup murah dan akan beranjak lebih positif bila situasi geopolitik membaik dan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat," tutup dia.

Sebagai informasi, tenggat waktu respons atau penyelesaian aturan terkait evaluasi MSCI terutama aturan free float minimum 15 persen ditetapkan pada Mei 2026.