KEMENTERIAN Kesehatan mencatat 256 kasus virus hanta atau hantavirus di Indonesia pada kurun 2024 hingga Mei 2026. Sebanyak 23 kasus terkonfirmasi pada pasien yang tersebar di sembilan provinsi, dan 20 orang di antaranya dinyatakan sembuh. Adapun tiga pasien lainnya meninggal dunia.
Adapun di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, terungkap ada satu orang meninggal dari tiga pasien yang dirawat karena terinfeksi virus hanta.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dokter spesialis penyakit dalam RSHS Bandung, Elisabeth Hutajulu, mengatakan seorang pasien laki-laki berusia 49 tahun dengan pekerjaan buruh bangunan sempat dirawat selama tiga hari. “Sayangnya pasien ini meninggal,” katanya saat sosialisasi virus hanta secara daring, Senin, 18 Mei 2026.
Dalam rentang waktu enam sampai satu hari sebelum masuk RSHS Bandung, pasien itu disebutkan mengalami demam yang hilang timbul, keluhan nyeri perut bagian kanan atas yang juga hilang timbul hingga sakitnya terasa makin berat, juga disertai badan dan mata yang kuning.
“Terdapat mual dan muntah setiap kali diisi makanan,” ujar Elisabeth. Saat datang ke RSHS dan diperiksa dokter, pasien diketahui mengalami demam, mata kuning, dan sesak napas.
Pada hari pertama perawatan, pasien masih demam, nyeri perut, dan sesak napasnya bertambah. Di hari kedua kondisi pasien semakin berat. “Saat diedukasi, keluarganya menolak untuk diintubasi dan akhirnya pasien meninggal,” kata Elisabeth.
Intubasi merupakan tindakan darurat memasukkan selang ke dalam tubuh untuk membantu pernapasan. Berdasarkan riwayat penyakitnya, pasien tidak memiliki komorbid seperti diabetes melitus, hipertensi, atau penyakit lain.
Hasil pemeriksaan fisik di awal ketika pasien masuk Instalasi Gawat Darurat menyebutkan pasien dalam kondisi sadar (compos mentis), tekanan darah atau tensi 100/60, denyut nadi 92 kali per menit, dan aturasi menurun.
Adapun parameter hematologi pasien di awal masuk tanpa anemia dan kadar hemoglobin (Hb) 12,7 gram per desiliter (g/dL). Namun, pada hari perawatan kedua dan ketiga, Hb pasien menurun hingga di hari terakhir atau meninggalnya 11 g/dL.
Leukosit meningkat dari 18.440 hingga pada hari perawatan ketiga menjadi 28.180 per mikroliter darah (mcl). Trombosit pasien sangat rendah, yaitu 31.000, dan terakhir 47.000. Dari hasil pemeriksaan serologi, pasien diketahui tanpa Hepatitis A, C, juga HIV.
“Setelah kami kirim sampel post mortem, kami mendapatkan hasil jawabannya bahwa pasien ini positif hantavirus dan leptospirosis,” katanya.
Dokter spesialis mikrobiologi klinik, Leonardus Widyatmoko, mengatakan hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia, sementara manusia tidak mempunyai kekebalan alamiah terhadap virus hanta.
Penyakit hantavirus secara alami menginfeksi hewan pengerat alias rodensia, seperti tikus liar, tikus rumah, tikus got, tikus tanah, celurut, dan kelelawar. “Menariknya hewan-hewan yang terinfeksi ini tidak memiliki gejala sakit namun bisa menjadi penyebar sepanjang hidup mereka,” katanya.
Riwayat temuan hantavirus di dunia, menurut Leonardus, dimulai pada 1930-an di Swedia. Penyakitnya dinamakan Nephropathia Epidemica, bentuk ringan dari demam berdarah dengan sindrom ginjal atau Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Kemudian pada kurun 1951-1954, saat Perang Korea, sebanyak 3.000 tentara PBB sakit akibat demam misterius yang dikenal sebagai Korean Hemorrhagic Fever. Pada 1976 dokter Ho Wang Lee di Korea berhasil mengisolasi agen penyebab penyakit dari tikus ladang bergaris yang dinamakan Hantaan Virus.
Pada 1980-an, di kawasan perkotaan Asia ditemukan kasus hantavirus HFRS yang disebabkan oleh virus Seoul yang dibawa tikus got atau tikus rumah. Hantavirus juga ditemukan pada wabah misterius di kalangan suku Navajo, Amerika Serikat pada 1993. Peneliti mengidentifikasinya dari virus Sin Nombreyang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan tergolong jarang.
Temuan selanjutnya pada 1995 di El Bolson, Argentina, yaitu virus Andes yang sejauh ini diketahui sebagai satu-satunya galur hantavirus yang terbukti dapat menular antarmanusia.
Lalu saat wabah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang muncul di Taman Nasional Yosemite Amerika Serikat pada 2012 akibat paparan tikus kabin penginapan, tiga dari sepuluh orang yang terpapar dilaporkan meninggal.
Kasus hantavirus mematikan kembali terjadi di Argentina pada kurun 2018-2019, yaitu di Epuyen, oleh virus Andes. Dari 34 orang yang terpapar, 11 di antaranya meninggal. Kejadian itu memicu pembuatan karantina pertama untuk kasus hantavirus.
Virus Andes juga baru-baru ini menewaskan tiga orang penumpang kapal pesiar MV Hondius dari 11 orang yang terinfeksi saat pelayaran dari Argentina ke Spanyol.
Di Indonesia, menurut Leonardus, kasus hantavirus bukan temuan baru. Pada 1984 sudah ada laporan pertama keberadaan virus hanta di Semarang dan Makassar, namun belum diketahui varian virusnya.
Kemudian pada 1991 ditemukan bukti serologis pertama infeksi manusia pada pekerja dan masyarakat sekitar pelabuhan di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Pada 1995-1996, ditemukan 10 kasus pada pasien yang harus dirawat inap di Semarang dan Yogyakarta melalui pemeriksaan serologi. Bukti serologis pada manusia di lokasi lain ditemukan di daerah pelabuhan Tanjung Priok dan Sunda Kelapa.
Temuan hantavirus lain di antaranya pada 2015-2018, yaitu pada tikus di 29 provinsi dan yang tertinggi di DKI Jakarta. Pada 2019 ketika penyelidikan wabah demam di Janeponto, Sulawesi Selatan, ditemukan tiga kasus virus Seoul yang terkonfirmasi.
Kementerian Kesehatan lantas menerbitkan buku pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit virus hanta di Indonesia pada 2023. “Kasus yang meninggal di Indonesia semuanya varian HFRS,” kata Leonardus.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·