TNI AL Benarkan Ada Kapal Perang AS di Selat Malaka

Sedang Trending 2 jam yang lalu

TENTARA Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) membenarkan adanya kapal perang Amerika Serikat di Selat Malaka. TNI AL menyatakan kapal asing tersebut menggunakan hak lintas transit atau transit passage sesuai dengan hukum internasional.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Tunggul menyampaikan kapal perang AS, USS Miguel Keith, terdeteksi di perairan timur Belawan pada Sabtu, 18 April 2026 sekitar pukul 15.00 WIB. Kapal itu terpantau melintas ke arah barat laut dengan kecepatan 13,1 knots dalam sistem Automatic Identification System (AIS).

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tunggul berujar Selat Malaka adalah perairan yang digunakan untuk pelayaran internasional. "Pelayaran semata-mata untuk tujuan transit yang terus menerus, langsung, dan secepat mungkin antara satu bagian laut lepas atau ZEE dan bagian laut lepas atau ZEE lainnya," tuturnya.

Tunggul mengatakan keberadaan kapal perang di Selat Malaka merupakan bagian dari aktivitas pelayaran internasional yang sah. Kapal perang AS itu, kata dia, memiliki hak lintas transit sesuai ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea atau UNCLOS, khususnya Pasal 37, 38, dan 39. Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut.

Keberadaan kapal perang di Selat Malaka menjadi sorotan setelah Amerika Serikat mengumumkan operasi memburu kapal-kapal Iran. Kedua negara sedang berperang setelah AS bersama Israel menyerang Iran pada akhir Februari lalu.

Saat ini, Amerika Serikat tengah menerapkan blokade terhadap kapal-kapal Iran untuk memberikan tekanan ekonomi kepada negara teluk tersebut. Pemimpin Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine mengatakan akan mengejar kapal-kapal yang terafiliasi Iran, bahkan hingga perairan yang jauh di luar Timur Tengah.

“Kami akan secara aktif memburu kapal berbendera Iran atau kapal lain yang berupaya memberi bantuan material kepada Iran," kata Caine seperti dikutip The Jerusalem Post pada Sabtu, 18 April 2026. Jenderal Caine secara khusus menyebut kawasan Indo-Pasifik, di mana Selat Malaka berada, dalam perburuan itu.