Beijing (ANTARA) - Saat China memulai liburan Hari Buruh (May Day) selama lima hari, semakin banyak wisatawan asing yang bepergian ke negara tersebut tidak hanya untuk melihat Tembok Besar atau berbelanja di pusat perbelanjaan modis, tetapi untuk menikmati pemandian 24 jam, mencoba pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM), serta menikmati hotpot larut malam dengan mengenakan piyama di tempat spa perkotaan.
Fenomena ini menandakan bahwa merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat China telah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan internasional.
China diperkirakan akan mengalami lonjakan perjalanan lintas perbatasan selama liburan itu, dengan arus penumpang inbound dan outbound diperkirakan mencapai rata-rata 2,25 juta dan mencapai puncaknya lebih dari 2,4 juta dalam satu hari, menurut Administrasi Imigrasi Nasional (National Immigration Administration) China.
Beijing telah mencatat lebih dari 2,28 juta kedatangan dan kepulangan warga negara asing tahun ini, naik 34 persen secara tahunan (year on year/yoy), yang mencerminkan pertumbuhan berkelanjutan dalam pariwisata inbound.
Gelombang ini didorong oleh meningkatnya jumlah pelancong internasional yang kini tidak lagi sekadar "berwisata di China" atau "berbelanja di China", melainkan mulai mencari pengalaman menyeluruh tentang kehidupan lokal, menurut Dai Bin, presiden Akademi Pariwisata China (China Tourism Academy).
"'Menjadi warga China' (Becoming Chinese) telah menjadi istilah populer di platform media sosial luar negeri," ujar Dai kepada Xinhua dalam sebuah wawancara terbaru.
Dai mengaitkan lonjakan ini dengan serangkaian kebijakan fasilitasi. China telah memperluas akses bebas visa unilateralnya ke 50 negara dan memperpanjang perjanjian bebas visa timbal balik ke 29 negara.
Selain itu, pelancong dari 55 negara dapat memanfaatkan kebijakan transit bebas visa selama 240 jam untuk mengunjungi China. Skema bebas bea dan pengembalian pajak yang dioptimalkan serta layanan pembayaran yang lebih mudah turut mendukung lonjakan tersebut, tambahnya.
Sebuah laporan terbaru Bloomberg, yang mengutip World Travel & Tourism Council (WTTC) dan Chase Travel, mencatat bahwa ekonomi perjalanan dan pariwisata China tumbuh 9,9 persen tahun lalu, lebih dari dua kali lipat rata-rata global. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh peningkatan lebih dari 10 persen dalam pengeluaran wisatawan asing di China pada 2025. "China dapat menjadi ekonomi pariwisata terbesar di dunia pada akhir dasawarsa ini," ujar Presiden sekaligus CEO WTTC Gloria Guevara, yang dikutip Bloomberg.
Salah satu manifestasi mencolok dari tren "hidup seperti warga lokal" adalah popularitas viral pemandian 24 jam China, atau "spa ala China", di platform media sosial luar negeri seperti TikTok dan YouTube.
"Pariwisata adalah tentang merasakan kehidupan indah di tempat yang jauh dari rumah, kehidupan yang seharusnya dinikmati baik oleh warga setempat maupun pengunjung," kata Dai. "Saya berharap semakin banyak pengunjung asing datang untuk merasakan tidak hanya keindahan pegunungan dan sungai China, tetapi juga pesona budaya dan kehidupan sehari-hari."
Daya tarik China terlihat jelas di negara asal wisatawan, dengan Australia sebagai salah satu contoh. Brisbane Times melaporkan bahwa China telah menjadi tujuan wisata kelima yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan Australia, dengan jumlah warga Australia yang mengunjungi China meningkat sekitar 16 persen menjadi lebih dari 700.000 dalam 12 bulan terakhir.
Pemesanan ke China melonjak 90 persen (yoy), lapor surat kabar tersebut, mengutip Simon Bell dari Wendy Wu Tours Australia. "Warga Australia semakin ingin menjelajah lebih jauh dari sekadar permukaan. Ada apresiasi yang terus tumbuh bahwa perjalanan ke China adalah tentang pengalaman wisata yang lebih dalam dan bermakna," ujar Bell.
Sementara itu, kontribusi negara-negara mitra Sabuk dan Jalur Sutra dan negara-negara Global South terhadap pertumbuhan pariwisata inbound China telah meningkat secara signifikan, menurut Dai.
Dai mengatakan bahwa wisatawan inbound tidak hanya mengunjungi kota-kota metropolitan, tetapi juga kota-kota tingkat kedua dan ketiga, bahkan wilayah dengan ciri khas tersendiri. Mereka juga tidak lagi terbatas pada kunjungan ke objek wisata, melainkan mulai menjelajahi berbagai sudut kehidupan masyarakat setempat.
Pakar itu optimistis terhadap prospek ke depan. "Sebuah rencana penguatan sektor pariwisata China selama periode 2026-2030 akan dirilis tahun ini, mendorong integrasi budaya dan pariwisata yang lebih dalam, semakin memfasilitasi perjalanan inbound, serta membuka potensi konsumsi," katanya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·