Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal skeptis terhadap proposal perdamaian terbaru dari Iran untuk mengakhiri perang yang telah memasuki bulan ketiga pada Senin, 4 Mei 2026. Upaya diplomatik ini mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian pertempuran di wilayah Iran serta Lebanon.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, laporan Axios mengungkapkan bahwa Teheran mengusulkan tenggat waktu satu bulan untuk negosiasi pembukaan jalur perairan vital tersebut. Rencana ini juga menuntut Amerika Serikat untuk mengakhiri blokade laut yang selama ini menekan ekonomi Republik Islam tersebut.
Kesepakatan tahap pertama ini diproyeksikan akan berlanjut ke diskusi tahap kedua guna membahas program nuklir Iran. Namun, laporan media lokal melalui Kantor Berita Tasnim menyebutkan bahwa isu nuklir tidak dicantumkan dalam poin-poin tuntutan resmi yang dikirimkan oleh pihak Teheran.
Donald Trump mengonfirmasi telah menerima pengarahan mengenai draf kesepakatan tersebut pada Sabtu, 2 Mei 2026. Meskipun meninjau dokumen itu, sang presiden melontarkan peringatan keras bahwa serangan militer bisa kembali dilakukan jika para pemimpin Iran dianggap bertindak tidak semestinya.
"I akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya sulit membayangkan itu akan diterima. Mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir," tulis Trump, Presiden AS.
Kekecewaan Trump muncul di tengah lambatnya progres penghentian konflik yang bermula dari serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu. Krisis ini telah mengakibatkan ribuan korban jiwa, terutama di wilayah Iran dan Lebanon, serta mengganggu stabilitas energi global secara signifikan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi pada hari Minggu bahwa pihaknya sedang meninjau respons dari Amerika Serikat. Komunikasi diplomatik ini dilakukan melalui perantara Pakistan setelah Iran mengajukan rencana perdamaian yang terdiri dari 14 poin utama.
"I akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirim Iran kepada kami, tetapi saya sulit membayangkan itu akan diterima. Mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Konflik berkepanjangan di Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga energi karena terhambatnya arus distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Kondisi ini menekan ekonomi domestik Amerika Serikat dengan harga bensin yang melampaui US$4 per galon menjelang pemilu sela.
Di sisi lain, aliansi OPEC+ pada hari Minggu sepakat melakukan penambahan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan Juni. Namun, langkah Arab Saudi dan Rusia ini dinilai hanya bersifat simbolis selama blokade militer di Selat Hormuz belum dicabut sepenuhnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menekankan bahwa kesiapan diplomatik negaranya bergantung pada perubahan sikap Amerika Serikat di meja runding. Teheran menuntut penghapusan sanksi secara menyeluruh dan pembayaran ganti rugi atas dampak peperangan yang terjadi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·