UEA Kritik Lemahnya Respons Negara Teluk Terhadap Serangan Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Penasihat kepresidenan Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara sekutunya di kawasan Teluk terkait respons mereka terhadap serangan balasan Iran. Pernyataan ini menyusul eskalasi militer yang terjadi setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Selasa (28/4/2026).

Dilansir dari Detikcom melalui laporan AFP, krisis ini memicu ketegangan di kawasan setelah Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menyasar negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang menampung aset militer AS.

Gargash mengapresiasi dukungan logistik antarnegara Teluk dalam menghadapi krisis, namun ia menyatakan kekecewaan mendalam atas sikap kolektif organisasi tersebut. Ia menilai reaksi yang ditunjukkan tidak sebanding dengan tingkat ancaman yang ada.

"Sikap GCC adalah yang paling lemah secara historis, mengingat sifat serangan dan ancaman yang ditimbulkannya bagi semua orang," kata Gargash, Penasihat Kepresidenan UEA.

Kekecewaan ini didasari pada ekspektasi politik terhadap organisasi regional yang beranggotakan enam negara tersebut. Gargash membandingkan respons GCC dengan organisasi regional lainnya yang memiliki jangkauan lebih luas.

"Sikap GCC adalah yang paling lemah secara historis, mengingat sifat serangan dan ancaman yang ditimbulkannya bagi semua orang," ucap Gargash, Penasihat Kepresidenan UEA.

Penilaian tersebut disampaikan saat dirinya menghadiri sebuah konferensi resmi di Dubai. Dalam forum itu, ia mengakui bahwa sikap kurang tegas memang sudah diprediksi akan muncul dari Liga Arab.

"Tetapi saya tidak mengharapkannya dari GCC, dan saya terkejut karenanya," ucap Gargash, Penasihat Kepresidenan UEA.

Konflik bersenjata ini pecah setelah Washington dan Tel Aviv melakukan operasi militer skala besar terhadap Teheran. Dampaknya, UEA menjadi negara yang paling sering menjadi sasaran serangan langsung oleh militer Iran dibandingkan negara tetangganya.

Otoritas di Abu Dhabi kini mengambil posisi yang lebih konfrontatif terhadap Teheran. Hal ini berbeda dengan negara-negara Teluk lainnya yang cenderung bersikap hati-hati dalam menjaga stabilitas kawasan.

Gargash menekankan bahwa selama ini monarki di kawasan Teluk selalu memiliki dinamika hubungan yang tidak mudah dengan pihak Iran.

"Sikap GCC adalah yang paling lemah secara historis, mengingat sifat serangan dan ancaman yang ditimbulkannya bagi semua orang," sebut Gargash, Penasihat Kepresidenan UEA.

Menurutnya, upaya diplomasi dan kerja sama yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Strategi melalui kemitraan energi dan perdagangan dianggap tidak lagi efektif dalam meredam ancaman.

"Tetapi kebijakan-kebijakan ini telah gagal total, dan sekarang kita menghadapi penilaian ulang yang besar," sebut Gargash, Penasihat Kepresidenan UEA.

Kegagalan kebijakan tersebut mendorong UEA untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi keamanan regional mereka. Saat ini, fokus utama adalah memetakan kembali hubungan dengan Iran di tengah kegagalan kebijakan penahanan diri.