Mustasyar Dini Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Abdul Moqsith Ghazali, memberikan klarifikasi terkait anggapan Tanah Suci sebagai tempat pembalasan dosa pada Kamis, 16 April 2026. Penegasan ini bertujuan meredam keraguan calon jemaah haji yang sering merasa takut berangkat ke Makkah dan Madinah.
Pandangan negatif yang berkembang di masyarakat sering kali mengaitkan kendala fisik atau teknis jemaah sebagai bentuk azab langsung. Kondisi seperti jemaah tersesat, jatuh sakit, atau perilaku tidak biasa pada lansia akibat demensia sering disalahartikan sebagai hukuman atas kesalahan masa lalu.
Dilansir dari Cahaya, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kendala tersebut murni disebabkan oleh dinamika perjalanan. Faktor kelelahan luar biasa, perbedaan budaya yang drastis, cuaca ekstrem di Arab Saudi, serta keterbatasan fisik menjadi pemicu utama kesulitan yang dialami jemaah.
"Ini bukan azab. Kita perlu memahami bahwa jemaah sedang beradaptasi dengan kondisi baru, apalagi setelah perjalanan panjang," ujar Abdul Moqsith Ghazali, Mustasyar Dini PPIH Arab Saudi sebagaimana dikutip dari laman Nahdlatul Ulama.
Perubahan lingkungan dan suhu panas yang menyengat di Tanah Suci memberikan tekanan fisik besar bagi para tamu Allah. Abdul Moqsith menekankan pentingnya berpikir jernih dan menghindari pemberian stigma negatif agar tidak menimbulkan kecemasan bagi keluarga jemaah di tanah air.
Secara teologis, ibadah haji merupakan momentum pembersihan diri yang justru membuka pintu ampunan seluas-luasnya. Dalam buku Manasik Haji dan Umrah karya Abdul Aziz Dahlan, dijelaskan bahwa jemaah yang melaksanakan haji dengan ikhlas akan kembali dalam keadaan suci layaknya bayi baru lahir.
Keutamaan beribadah di Makkah dan Madinah juga ditandai dengan pelipatan nilai pahala yang drastis. Shalat di Masjid Nabawi bernilai seribu kali lipat, sementara di Masjidil Haram mencapai seratus ribu kali lipat dibandingkan tempat lainnya.
Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin turut menekankan bahwa keistimewaan tempat suci tersebut seharusnya menumbuhkan rasa harap yang besar kepada Tuhan. Umat Islam diimbau untuk menjaga husnuzan atau prasangka baik agar dapat menjalani ibadah dengan lebih khusyuk dan tenang.
Kehadiran seorang Muslim di Tanah Suci merupakan bentuk undangan mulia atau panggilan Ilahi. Hal ini mengukuhkan posisi jemaah sebagai tamu yang dihormati, bukan subjek yang sedang diancam oleh hukuman fisik di dunia.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·