Hijir Ismail menjadi salah satu titik yang paling dicari oleh jutaan jamaah saat melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah. Kawasan ini menawarkan kesempatan bagi umat Islam untuk bermunajat lebih dekat kepada Allah SWT.
Area yang berbentuk setengah lingkaran di sisi utara Ka’bah ini bukan sekadar bangunan tambahan. Dilansir dari Cahaya, Hijir Ismail secara hukum dianggap sebagai bagian integral dari bangunan Ka’bah itu sendiri.
Keistimewaan tempat ini mendorong banyak jamaah haji maupun umrah untuk berupaya melaksanakan shalat sunnah di sana. Namun, penting bagi jamaah untuk memahami anjuran doa dan makna spiritual yang melandasi ibadah tersebut.
Dibatasi oleh dinding rendah yang dikenal dengan nama al-hatim, Hijir Ismail merupakan bagian dari fondasi asli yang diletakkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hal ini memberikan nilai sejarah dan kesucian yang sangat tinggi.
Ketetapan mengenai kedudukan area ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar. Saat itu, Rasulullah SAW memberikan petunjuk kepada Aisyah agar melaksanakan shalat di Hijir Ismail jika ingin masuk ke dalam Ka’bah.
"Shalatlah di Hijir Ismail karena tempat tersebut termasuk bagian dari Ka’bah," tutur Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan An-Nasa’i.
Oleh karena itu, jamaah tidak diperkenankan melintasi bagian dalam area ini saat melakukan tawaf. Menghormati keutuhan Ka’bah dilakukan dengan cara mengelilingi dinding al-hatim dari sisi luar.
Anjuran Ibadah Shalat Sunnah
Melaksanakan shalat sunnah mutlak di lokasi ini menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Ibadah tersebut tidak terikat langsung dengan rangkaian tawaf dan dapat dikerjakan kapan saja, selama bukan pada waktu yang dilarang untuk shalat.
Buku Doa dan Dzikir Haji dan Umrah 1447 H/2026 M yang dirilis Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat keutamaan khusus ini. Hal tersebut didasari oleh posisi geografisnya yang secara syariat adalah bagian dalam Ka’bah.
Kementerian Agama Republik Indonesia turut memberikan anjuran serupa kepada para jamaah. Mereka diharapkan dapat memperbanyak ibadah, termasuk shalat sunnah dan lantunan doa saat berada di area istimewa tersebut.
Lafal Doa Setelah Shalat di Hijir Ismail
Setelah menyelesaikan shalat, para jamaah sangat disarankan untuk mengoptimalkan waktu dengan berdoa. Berikut adalah teks doa yang dapat dibaca sesuai dengan tuntunan:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عهدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْألُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ
Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā ‘abduka, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu, a‘ūdzu bika min syarri mā ṣana‘tu, abū’u laka bini‘matika ‘alayya wa abū’u bidzanbī, faghfir lī, fa innahu lā yaghfirudz dzunūba illā anta.
Allāhumma innī as’aluka min khairi mā sa’alaka bihi ‘ibādukaṣ-ṣāliḥūn, wa a‘ūdzu bika min syarri mā ista‘ādzaka minhu ‘ibādukaṣ-ṣāliḥūn.
"Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berusaha memenuhi janji kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang dimohon oleh hamba-hamba-Mu yang saleh, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang mereka berlindung darinya."
Dimensi Spiritual dan Kedekatan Batin
Status Hijir Ismail sebagai bagian dari Ka’bah membuat orang yang shalat di dalamnya seolah-olah sedang berada tepat di dalam Baitullah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa keutamaan tempat mampu memperkuat nilai spiritual.
Dalam tinjauan tasawuf pada kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa situs-situs bersejarah yang dekat dengan jejak kenabian berfungsi sebagai sarana penghadir kesadaran batin yang lebih mendalam bagi hamba.
Kepadatan jamaah di Masjidil Haram memang membuat akses ke area ini tidak selalu mudah didapatkan. Namun, esensi ibadah di tempat ini tetap pada upaya menghadirkan kekhusyukan dan penyerahan diri secara total kepada sang Pencipta.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·