Uni Eropa dorong kebebasan navigasi di Selat Hormuz tanpa pungutan tol

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Istanbul (ANTARA) - Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan blok tersebut sedang berupaya menuju penyelesaian konflik Timur Tengah yang langgeng, menekankan perlunya memulihkan keamanan maritim di Selat Hormuz.

Dalam pidatonya di Parlemen Eropa, von der Leyen mengatakan jeda pertempuran baru-baru ini menawarkan kesempatan untuk memajukan upaya diplomatik, termasuk mempertahankan gencatan senjata yang melibatkan Iran dan Lebanon.

"Tujuan bersama kita sekarang adalah untuk melihat adanya penyelesaian perang yang langgeng, dan ini termasuk memulihkan kebebasan dalam navigasi penuh dan permanen di Selat Hormuz tanpa pungutan tol," kata von der Leyen.

"Sama jelasnya bahwa setiap perjanjian perdamaian harus membahas program nuklir dan rudal balistik Iran," tambahnya.

Von der Leyen mengatakan para pemimpin Uni Eropa telah bertemu dengan mitra regional, termasuk Mesir, Lebanon, Suriah, dan Yordania, serta sekretaris jenderal Dewan Kerja Sama Teluk, untuk mengoordinasikan upaya menuju de-eskalasi dan stabilitas.

Namun, dia memperingatkan bahwa dampak ekonomi dari konflik tersebut dapat berlanjut "selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun," terutama di pasar energi, karena gangguan pada jalur pelayaran utama berisiko menaikkan harga global.

Dalam menyoroti dampaknya, von der Leyen mengatakan tagihan impor bahan bakar fosil Eropa telah meningkat lebih dari 27 miliar euro (Rp545 triliun) hanya dalam 60 hari konflik, "tanpa satu molekul energi pun sebagai tambahan."

Dia mengatakan krisis tersebut menggarisbawahi kerentanan Uni Eropa terhadap impor bahan bakar fosil, dan menyerukan percepatan transisi ke energi yang diproduksi di dalam negeri.

"Kita harus mengurangi ketergantungan kita yang berlebihan pada impor bahan bakar fosil, dan kita harus meningkatkan pasokan energi bersih yang terjangkau dan diproduksi di dalam negeri," katanya.

Dia merujuk pada energi terbarukan dan tenaga nuklir sebagai pilar utama.

Von der Leyen juga menekankan perlunya koordinasi lebih kuat antarnegara Uni Eropa terkait cadangan energi dan penyimpanan gas, serta bantuan tepat sasaran bagi rumah tangga dan industri rentan guna mencegah kebijakan mahal dan tidak efektif seperti pada krisis energi sebelumnya.

Dia menambahkan bahwa elektrifikasi dan efisiensi energi akan menjadi kunci untuk mengurangi permintaan dan melindungi Eropa dari guncangan di masa depan.

Selain itu, von der Leyen mencatat bahwa negara-negara dengan pangsa energi rendah karbon yang lebih tinggi kurang terpengaruh oleh volatilitas harga.

Presiden Komisi Eropa itu juga mengatakan bahwa Uni Eropa akan mempresentasikan rencana aksi elektrifikasi pada musim panas, bersamaan dengan upaya yang lebih luas untuk memodernisasi infrastruktur energi dan memperkuat keamanan ekonomi.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Uni Eropa: Konflik Timur Tengah sebabkan lonjakan biaya impor energi

Baca juga: Uni Eropa usulkan misi angkatan laut untuk buka kembali Selat Hormuz

Baca juga: UE terapkan sanksi baru ke Rusia, terminal minyak Karimun masuk daftar

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.