Unitree Robotics Luncurkan Mecha Berawak GD01 Seharga Rp 10 Miliar

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Perusahaan teknologi asal China, Unitree Robotics, secara resmi memperkenalkan GD01, sebuah mesin raksasa setinggi 2,7 meter yang diklaim sebagai robot mecha berawak pertama di dunia yang siap diproduksi massal. Dilansir dari Detik iNET, robot ini mampu dikendalikan langsung oleh pilot manusia untuk melakukan berbagai gerakan mekanis berat.

CEO Unitree Robotics, Wang Xingxing, mendemonstrasikan kecanggihan mesin tersebut dengan masuk ke dalam kokpit dan menggerakkan lengan mekanis untuk menghancurkan dinding. GD01 memiliki fleksibilitas tinggi dengan kemampuan berjalan menggunakan dua kaki, serta dapat bertransformasi menjadi posisi merangkak dengan empat kaki.

Kehadiran robot ini memicu reaksi luas di berbagai platform digital, mulai dari media sosial lokal China hingga komunitas internasional yang membandingkannya dengan teknologi dalam film fiksi ilmiah.

"Rasanya seperti menonton Transformers di kehidupan nyata," tulis seorang pengguna Weibo.

Sentimen serupa juga muncul dari platform lain yang menyamakan pencapaian teknologi ini dengan animasi populer asal Jepang.

"Wow! Kita akhirnya memiliki Gundam sungguhan sekarang!" komentar netizen lainnya.

Antusiasme publik terus berlanjut di kanal YouTube, di mana para penonton menyoroti kemajuan pesat para insinyur di China dalam mewujudkan konsep futuristik menjadi kenyataan.

"Di sinilah saya, menyaksikan kedatangan era mecha," tulis seorang netizen di YouTube.

Beberapa pengguna bahkan menghubungkan desain GD01 dengan perlengkapan tempur yang terlihat dalam film Hollywood populer.

"Baju zirah seperti di film Avatar kini menjadi nyata," sebut yang lain.

Komentar positif juga ditujukan kepada ekosistem teknik di negara tersebut yang dinilai sangat mendukung inovasi robotika.

"China benar-benar surga bagi bagi para insinyur," demikian bunyi sebuah komentar.

Lukas Ziegler, seorang pengamat robotika terkemuka asal Eropa, memberikan data pendukung terkait dominasi manufaktur China di sektor ini melalui unggahannya di platform X.

"Perusahaan China menyumbang hampir 90% penjualan robot humanoid global di 2025. Unitree sendiri mengirim lebih dari 5.500 robot humanoid tahun lalu. Negara Barat memang tengah membangun robot humanoid luar biasa. Namun China membangunnya lebih cepat, lebih murah, dan pada skala yang tak bisa ditandingi siapa pun," tulis Lukas Ziegler, evangelist robotika.

Meskipun memiliki kemampuan canggih dan bobot mencapai 500 kg, GD01 dipasarkan dengan harga yang sangat tinggi, yakni mulai dari 3,9 juta yuan atau setara Rp 10 miliar. Staf pemasaran Unitree Robotics, Huang Jiawei, menjelaskan bahwa nominal tersebut masih bersifat dinamis.

"Versi produksi akhir mungkin masih akan disesuaikan bergantung pada optimalisasi kinerja," kata Huang Jiawei, staf pemasaran Unitree Robotics.

Huang menekankan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah menyempurnakan fungsi dan menekan biaya produksi agar lebih efisien di masa depan.

"Skenario penerapan produk-produk Unitree pada dasarnya ditujukan untuk mengubah cara kita bekerja. Sebagai contoh, robot-robot kami dapat digunakan di lingkungan yang berisiko tinggi dan ekstrem," kata Huang.

Ia juga menambahkan bahwa pengembangan GD01 saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan teknologi mecha berawak.

"Produk ini masih dalam generasi pertamanya pada tahap ini, dan memang masih ada banyak ruang untuk berimajinasi," tambah Huang.

Wakil Presiden Technology and Strategy Research Institute, Chen Jing, menilai peluncuran GD01 merupakan bukti bahwa China telah melampaui fase eksperimen dalam pengembangan kecerdasan buatan fisik.

"Ini bukan lagi sekadar mesin proof-of-concept yang terbatas di laboratorium, melainkan produk dengan label harga dan peta jalan komersialisasi jelas," kata Chen Jing, Wakil Presiden Technology and Strategy Research Institute.

Kendati demikian, Chen juga menggarisbawahi sejumlah hambatan teknis dan operasional yang masih harus dihadapi sebelum teknologi ini dapat diadopsi secara luas di masyarakat.

"Namun kelemahannya terutama berkaitan kegunaan di dunia nyata, termasuk kesulitan untuk masuk dan keluar dari mesin, masalah daya tahan baterai, kenyamanan terbatas, ketidakpastian regulasi, dan kompleksitas perawatan," tambah Chen.