Vicky Shu Ungkap Perjalanan Kelola Berat Badan Bersama Halofit by Halodoc

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Gaya hidup modern yang serba cepat, minim aktivitas fisik, dan tingginya tingkat stres membuat banyak orang kesulitan menjaga kondisi kesehatan, termasuk berat badan ideal. Kondisi ini kerap diperburuk oleh pola makan tidak teratur serta perubahan metabolisme, terutama pada perempuan setelah melahirkan.

Lonjakan berat badan seringkali masih dianggap semata-mata akibat kurangnya disiplin dalam gaya hidup, padahal faktanya dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks seperti genetik, hormonal, hingga metabolik. Stigma tersebut kerap menimbulkan tekanan mental dan mendorong sebagian orang menempuh cara instan yang justru berisiko bagi kesehatan.

Tekanan sosial dan perjuangan mengelola berat badan juga dialami figur publik Vicky Shu. Usai melahirkan anak keduanya, Vicky menghadapi tantangan berat badan yang cukup signifikan, hingga kemudian menjadi sasaran body shaming dan mom shaming di media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tengah proses adaptasi dan upayanya kembali aktif, Vicky memilih untuk tetap memprioritaskan kesehatan. Publik sempat berspekulasi ia menjalani operasi potong lambung karena transformasinya yang dinilai cepat. Namun, Vicky menjalani program weight management bersama Halodoc melalui Halofit selama delapan minggu di bawah pengawasan medis serta dukungan teknologi.

"Aku memilih program Halofit karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja. Melalui program ini, aku mendapatkan pengawasan dari tim dokter selama 30 hari, diberikan meal plan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhku, dan mendapat terapi GLP-1, jadi nafsu makan aku lebih terkontrol dan nggak lagi lapar mata. Apalagi Halofit ini bisa diakses secara online juga ya, jadi memudahkan aku yang sehari-hari sudah padat bekerja dan mengurus keluarga," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026).

"Perjalanan transformasi ini ngajarin aku bahwa kita nggak harus memenuhi standar kecantikan orang lain, karena tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan saja, tapi justru memiliki tubuh yang sehat, dan akhirnya pun dapat berdampak pada mental yang sehat," sambungnya.

Apa yang dialami Vicky Shu mencerminkan realita yang lebih luas. Kelebihan berat badan dan obesitas kerap dipandang sebagai persoalan gaya hidup semata, padahal kondisi ini dipengaruhi faktor yang jauh lebih kompleks dan membutuhkan penanganan berbasis medis. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat perlu disesuaikan dengan kondisi tiap individu, bukan solusi generik yang seragam.

Halofit by Halodoc pun hadir sebagai klinik digital untuk manajemen berat badan dengan pendekatan medis yang dipersonalisasi.

Halofit by Halodoc : Solusi Manajemen Berat Badan di Tengah Krisis Obesitas

Kehadiran Halofit dilatarbelakangi oleh tingginya kasus obesitas di Indonesia. Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025, satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut yang berisiko bagi kesehatan metabolik. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

Sementara itu, studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) APAC oleh Novo Nordisk di sembilan negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, pada 2022 menunjukkan hanya 43% individu dengan obesitas yang pernah mendiskusikan kondisi berat badannya dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir. Kesenjangan inilah yang ingin dijembatani Halofit agar masyarakat mendapat pendampingan medis yang lebih tepat.

VP Consultation & Diagnostics Halodoc Ignasius Hasim mengatakan bahwa mengatasi obesitas bukan hanya soal menurunkan angka di timbangan, tetapi juga membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan.

"Bagi Halodoc, mengatasi obesitas bukan sekadar menurunkan angka di timbangan, tetapi membantu masyarakat membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan. Data Halodoc tahun 2024 menunjukkan, sebelum Halofit diluncurkan, sekitar 75% pasien nutrisionis Halodoc telah mencari dukungan untuk manajemen berat badan, namun sebagian besar masih berfokus pada pengaturan pola makan dan edukasi gaya hidup. Maka dari itu, melalui Halofit kami menghadirkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan menggabungkan edukasi, pendampingan dokter dan ahli gizi, teknologi, serta terapi medis program weight management berbasis bukti ilmiah," terangnya.

Melalui aplikasi Halodoc, pengguna dapat mengakses Halofit untuk menjalani program transformasi 30 hari yang mencakup konsultasi dokter, personalized meal plan dari ahli gizi, obat pendamping, serta pendampingan penuh selama satu bulan. Jika diindikasikan secara medis, terapi injeksi GLP-1 dapat diberikan untuk membantu mengontrol nafsu makan. Seluruh program tersebut diawasi oleh Board of Wellness Halofit yang terdiri dari dokter spesialis endokrin dan gizi klinis.

Terapi GLP-1 sendiri bekerja dengan meniru hormon alami usus yang berperan dalam mengatur rasa kenyang dan kadar gula darah. Berdasarkan uji klinis, terapi ini terbukti membantu penurunan berat badan hingga 10 kg lebih banyak serta menekan asupan energi rata-rata sebesar 35% dibandingkan kelompok tanpa terapi.

Namun, perlu diingat bahwa terapi ini hanya diberikan berdasarkan asesmen dokter dan bukan sebagai solusi instan, melainkan bagian dari pendekatan medis yang menyeluruh, seperti yang dijalani oleh Vicky Shu.

Melalui transformation journey bersama Halofit, Halodoc berharap semakin banyak masyarakat mengambil langkah penanganan berat badan secara lebih tepat, aman, dan didampingi oleh ahli medis. Informasi lebih lengkap mengenai program ini dapat diakses melalui aplikasi Halodoc atau link berikut ini halodoc.com/dc/halofit/weight_loss.


(ega/ega)