Wamen Nezar: Krisis media jadi ancaman bagi kualitas informasi publik

Sedang Trending 28 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) -

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai krisis industri media nasional saat ini telah berkembang menjadi ancaman terhadap kualitas informasi publik dan ruang demokrasi digital, bukan lagi sekadar persoalan bisnis perusahaan pers.

Menurut Nezar, disrupsi teknologi digital telah mengubah lanskap industri media di tingkat lokal hingga global. Kemudahan mendirikan media saat ini, kata dia, tidak sejalan dengan kemampuan perusahaan media untuk bertahan secara ekonomi di tengah perubahan distribusi informasi dan pergeseran belanja iklan ke platform digital.

“Saat ini membuat media itu mudah, yang susah itu jualnya. Sekarang semua orang bisa bikin media, tapi apakah bisa bertahan dan sustainable? Itu tantangannya,” kata Nezar saat menerima audiensi manajemen Saburai TV di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, Rabu (13/5) sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemkomdigi.

Baca juga: Nezar sebut open source dan kolaborasi pendorong inklusivitas digital

Ia mengatakan hampir seluruh perusahaan media masih mencari model bisnis baru yang dapat menopang keberlanjutan industri di tengah dominasi platform digital dan perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Menurut dia, tekanan tersebut juga dialami media besar. Nezar mengutip laporan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang menyebut kehadiran fitur AI pada mesin pencari digital menyebabkan trafik media turun drastis hingga 10 kali lipat.

Penurunan trafik tersebut, lanjut dia, berdampak langsung terhadap pendapatan perusahaan media dan memicu langkah efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca juga: Indonesia targetkan jadi pemegang kendali arah pengembangan AI

“Ada media yang biasanya memperoleh puluhan juta page views per hari, sekarang turun sampai hampir sepuluh kali lipat. Ketika traffic turun, revenue juga turun. Akibatnya perusahaan harus mengendalikan biaya dan akhirnya terjadi PHK,” ujarnya.

Nezar mengatakan tekanan terhadap industri media diperkirakan masih berlanjut pada pertengahan tahun ini, terutama pada industri televisi, termasuk televisi lokal yang menjadi sumber informasi masyarakat di daerah.

Namun demikian, ia menekankan persoalan utama bukan hanya menyangkut keberlangsungan perusahaan media, melainkan dampaknya terhadap ekosistem informasi publik.

Baca juga: Nezar Patria ajak anak muda pahami teknologi, bekal pemimpin digital

“Nah, kita tidak bisa membiarkan informasi publik ini hanya dikendalikan platform atau buzzer-buzzer yang kualitas informasinya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Information integrity atau kualitas informasi publik itu menjadi taruhan,” tegasnya.

Ia menilai melemahnya media arus utama dapat memperbesar ruang penyebaran informasi manipulatif, disinformasi, dan konten tidak sehat yang berpotensi merusak kualitas demokrasi digital.

Karena itu, pemerintah terus mendorong keseimbangan ekosistem informasi melalui berbagai bentuk kolaborasi dengan media, termasuk media lokal.

Baca juga: Wamenkomdigi sebut transformasi digital harus hasilkan solusi nyata

Salah satu langkah yang telah ditempuh pemerintah, kata Nezar, yakni mendorong implementasi Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas atau Publisher Rights agar perusahaan media memiliki posisi yang lebih setara di hadapan platform digital global.

“Pemerintah sudah mencoba mengusahakan agar relasi dengan platform lebih fair dengan membuat Perpres Publisher Rights, supaya media punya posisi yang lebih setara ketika berbicara dengan platform,” tutur Nezar.

Ia menambahkan Kementerian Komunikasi dan Digital akan terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai media guna mendukung penyebaran informasi publik yang sehat, kredibel, dan bertanggung jawab di tengah transformasi digital.

Baca juga: Nezar sebut penanganan hoaks kesehatan perlu libatkan platform digital

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.