Waspadai efek kontaminasi bahan kimia pada bahan makanan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Para ahli mengingatkan pentingnya mewaspadai kemungkinan paparan bahan kimia seperti pestisida pada bahan makanan, utamanya bahan makanan segar seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian.

Menurut siaran Everyday Health pada Senin (20/4), sebuah penelitian baru menyebut kemungkinan paparan pestisida pada buah-buahan dan sayur-sayuran sebagai faktor yang mengaitkan diet sehat dengan risiko kanker paru-paru.

Dalam studi yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Association for Cancer Research ini, para peneliti meluncurkan Proyek Epidemiologi Kanker Paru-paru pada Usia Muda yang mencakup survei terhadap 187 orang yang didiagnosis menderita kanker paru-paru pada usia 50 tahun.

Sebagian besar pasien yang disurvei tidak pernah merokok dan memiliki bentuk kanker paru-paru yang berbeda dari yang biasanya dikaitkan dengan merokok.

Para peneliti menganalisis pola makan para peserta menggunakan Indeks Makan Sehat (Healthy Eating Index/HEI) dan membandingkannya dengan pola makan populasi Amerika yang lebih luas.

Para peneliti mendapati pasien kanker paru-paru muda yang berpartisipasi dalam penelitian memiliki skor HEI rata-rata 65 dari 100, lebih tinggi dari rata-rata nasional di Amerika Serikat (57).

Secara umum, pasien kanker paru-paru muda mengonsumsi lebih banyak porsi buah, sayuran, dan biji-bijian utuh per hari daripada populasi umum.

Pasien kanker paru-paru muda rata-rata mengonsumsi 4,3 porsi sayuran hijau gelap dan kacang-kacangan serta 3,9 porsi biji-bijian utuh per hari, sedangkan rata-rata orang dewasa Amerika mengonsumsi 3,6 porsi sayuran hijau gelap dan kacang-kacangan serta 2,6 porsi biji-bijian utuh per hari.

Ahli onkologi medis dan spesialis kanker paru-paru di USC Norris Comprehensive Cancer Center di Los Angeles Jorge Nieva, MD, selaku penulis utama studi mengemukakan kemungkinan peran pestisida dalam hubungan diet sayur dan buah dengan risiko kanker paru-paru pada usia muda.

"Karena pestisida ditemukan dalam konsentrasi yang lebih tinggi pada jenis makanan yang dikonsumsi oleh populasi pasien kami," katanya.

Ia menyampaikan bahwa orang yang bekerja di bidang pertanian sebagai penyemprot pestisida memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru.

Baca juga: Tiga tahap menjaga keamanan pangan dari kontaminasi bakteri

Namun, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Illinois di Chicago Katrine Wallace PhD menyebut hasil penelitian tersebut sebagai bukti tingkat rendah yang mestinya hanya digunakan untuk pembentukan hipotesis.

Menurut dia, pesan dalam penelitian itu dapat menyesatkan publik dan merusak panduan diet yang sudah mapan.

Dekan madya untuk penelitian kanker dan onkologi integratif di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Biomedis Jacobs Universitas Buffalo, Roberto Pili, MD juga mengatakan bahwa penafsiran hasil studi itu harus dilakukan secara hati-hati.

Menurut dia, tidak ada bukti terdokumentasi yang menunjukkan bahwa pasien-pasien yang terlibat dalam penelitian terpapar pestisida dalam kadar yang lebih tinggi.

Ia mengemukakan perlunya penelitian lebih lanjut pada kelompok pasien yang lebih besar untuk mengeksplorasi potensi hubungan antara paparan pestisida, konsumsi produk pertanian, dan risiko kanker paru-paru.

"Terlepas dari apakah produk tersebut organik atau konvensional, pencucian harus selalu direkomendasikan untuk mengurangi kontaminan seperti bahan kimia dan bakteri," katanya.

Baca juga: Lima kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan metabolisme

Baca juga: Siasat terapkan diet tinggi protein tanpa ganggu kesehatan ginjal

Penerjemah: Fitra Ashari
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.