Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyepakati pembangunan hubungan bilateral yang konstruktif dan berlandaskan stabilitas strategis dalam pertemuan tingkat tinggi di Beijing pada Kamis (14/5/2026). Keduanya membahas berbagai isu krusial mulai dari perdagangan, hak asasi manusia, hingga keamanan jalur energi global.
Dilansir dari Money, pertemuan ini menandai upaya normalisasi hubungan setelah bertahun-tahun diliputi perselisihan. Delegasi perdagangan kedua negara yang dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dilaporkan telah mencapai hasil yang positif dan seimbang bagi kedua belah pihak.
"Meskipun gesekan diperkirakan akan terus berlanjut, akan ada pengaman, dan keadaan tidak akan lepas kendali kedua belah pihak seperti yang hampir terjadi pada 2025," ungkap Tianchen Xu, Ekonom senior di Economist Intelligence Unit.
Dalam dialog tersebut, Xi Jinping menekankan pentingnya kerangka kerja sama baru yang dapat diimplementasikan dalam tindakan nyata. Ia memproyeksikan strategi ini akan memandu arah hubungan kedua negara untuk periode tiga tahun ke depan.
"Kedua belah pihak harus bekerja sama untuk mempertahankan momentum positif yang telah diraih dengan susah payah ini," kata Xi Jinping, Presiden China.
Beijing menyatakan keterbukaan terhadap keterlibatan komersial yang lebih dalam dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Kunjungan kenegaraan ini juga diikuti oleh sejumlah pimpinan bisnis besar, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Jensen Huang dari Nvidia.
Pihak Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump mendorong Beijing untuk meningkatkan pembelian produk pertanian dan memperluas akses pasar bagi bisnis AS. Trump juga meminta komitmen China dalam menekan aliran fentanyl ke Amerika Serikat.
Terkait isu energi dan konflik regional, kedua pemimpin sepakat mengenai pentingnya menjaga keterbukaan Selat Hormuz. China pun menyatakan ketertarikannya untuk menambah impor minyak dari Amerika guna mengurangi ketergantungan pada pasokan Timur Tengah.
"Xi menegaskan kembali penentangan Beijing terhadap militerisasi jalur energi tersebut dan segala upaya untuk mengenakan biaya tol atas penggunaannya," kata pejabat Gedung Putih tersebut.
Tensi sempat meningkat ketika pembahasan beralih ke masalah kedaulatan. Xi Jinping memberikan peringatan keras bahwa isu Taiwan merupakan hal paling sensitif yang dapat memicu bentrokan jika tidak dikelola dengan hati-hati.
"Jika ditangani dengan baik, hubungan akan tetap terjaga, jika ditangani dengan buruk, kedua negara berisiko mengalami bentrokan atau konflik," ujar Xi Jinping, Presiden China.
Para analis pasar modal, termasuk dari Goldman Sachs, melihat pertemuan ini sebagai katalis positif bagi bursa saham China yang selama ini tertinggal. Kehadiran CEO Nvidia pun dinilai strategis bagi perusahaan teknologi China yang membutuhkan akses ke perangkat keras kecerdasan buatan.
"Fakta bahwa Trump dan Xi sudah bertemu mengirimkan sinyal positif," tambah Dong Chen, kepala bagian investasi di Bank J Safra Sarasin.
Persaingan di bidang teknologi, khususnya kecerdasan buatan, tetap menjadi fokus utama bagi para investor global. Akses terhadap daya komputasi terbaru dianggap sebagai faktor penentu bagi perusahaan China untuk bersaing di level internasional.
"Senjata rahasia, atau senjata yang tidak begitu rahasia bagi para pemain AI AS, adalah akses ke chip Nvidia, yang tidak dimiliki oleh perusahaan-perusahaan China," kata Jiong Shao, Analis internet China di Barclays.
"Memiliki akses ke chip terbaru Nvidia sangat, sangat penting bagi para pemain China untuk bersaing di panggung global," tutup Jiong Shao, Analis internet China di Barclays.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·