Para pemimpin bisnis di Inggris memperkirakan kecerdasan buatan (AI) akan menekan tingkat penyerapan tenaga kerja secara signifikan dalam sepuluh tahun ke depan, dengan dampak terberat menyasar posisi tingkat pemula atau entry-level pada Senin (20/4/2026).
Kekhawatiran akan penyusutan lapangan kerja ini meningkat tajam berdasarkan laporan penelitian terbaru dari Accenture, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz. Sebanyak 50 persen pemimpin bisnis menyatakan kecemasan terhadap penurunan total lapangan kerja, melonjak dari hanya sepertiga responden pada dua tahun lalu.
Hasil jajak pendapat tersebut menyoroti adanya risiko pelemahan investasi pada transisi tenaga kerja jika para petinggi perusahaan menganggap pergantian peran manusia oleh teknologi tidak bisa dihindari.
"Jika para pemimpin menganggap penggantian tenaga kerja oleh AI tak terhindarkan, insentif untuk berinvestasi dalam transisi tenaga kerja akan melemah," tulis tim peneliti dalam laporan tersebut.
Kondisi ini menempatkan pekerja muda dalam posisi yang sangat rentan karena permintaan untuk posisi pemula diprediksi terus merosot. Data menunjukkan hanya 15 persen pemimpin yang optimis AI akan meningkatkan permintaan posisi entry-level, jatuh dari angka 40 persen pada periode survei sebelumnya.
Sebaliknya, sekitar 40 persen eksekutif saat ini justru memproyeksikan AI akan memangkas kebutuhan akan tenaga kerja pemula. Tantangan ini menambah beban bagi Perdana Menteri Keir Starmer mengingat angka pengangguran usia 16-24 tahun di Inggris telah mencapai titik tertinggi dalam satu dekade terakhir.
CEO Accenture untuk wilayah Inggris dan Irlandia, Matt Prebble, memberikan penegasan bahwa pelaku usaha di Inggris perlu membangun kembali rasa percaya diri mereka dalam menghadapi transisi teknologi ini.
"mengembalikan kepercayaan dirinya," kata Matt Prebble, CEO Accenture untuk wilayah Inggris dan Irlandia.
Prebble memberikan desakan agar para pemimpin perusahaan tidak sekadar melihat AI sebagai alat untuk mengejar efisiensi operasional semata. Ia menyarankan pemanfaatan teknologi diarahkan untuk memperkuat aspek pendapatan dan kualitas layanan.
"pendorong kualitas dan pendapatan, bukan sekadar efisiensi," ujar Matt Prebble, CEO Accenture untuk wilayah Inggris dan Irlandia.
Meskipun adopsi AI generatif oleh karyawan di Inggris meningkat hingga tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir, kemajuan di level korporasi masih tergolong lambat. Hal ini disebabkan AI lebih banyak digunakan untuk tugas-tugas minor ketimbang mengubah proses bisnis inti secara menyeluruh.
Perbedaan visi terjadi di mana pekerja cenderung menggunakan AI untuk meningkatkan kualitas hasil kerja, sementara atasan lebih sering memandangnya sebagai instrumen pemangkasan biaya. Padahal, analisis terhadap 17 industri menunjukkan potensi peningkatan pendapatan dari AI bisa dua kali lipat lebih besar dibanding penghematan biaya tenaga kerja.
Data survei yang dikumpulkan antara Februari dan Maret 2026 ini melibatkan 2.085 karyawan dan 510 eksekutif perusahaan di seluruh wilayah Inggris Raya dan Irlandia Utara.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·