Sejumlah akademisi lintas universitas mengkritik keras respons pasif otoritas pendidikan tinggi terhadap sentimen antisemitisme dalam simposium di Rubenstein Treehouse, Allston, pada Kamis, 14 Mei 2026.
Pertemuan bertajuk Antisemitisme dan Universitas tersebut diselenggarakan secara kolaboratif oleh Center for Jewish Studies, Program Hukum Yahudi dan Israel Julis-Rabinowitz, serta Kantor Presiden dan Provost Harvard.
Diskusi ini mengeksplorasi titik temu sejarah inklusi dan eksklusi komunitas Yahudi di institusi akademik di tengah meningkatnya ketegangan global.
Profesor Universitas Porter, Noah Feldman, membuka rangkaian kajian dengan memaparkan dinamika rekam jejak historis institusi yang diskriminatif sekaligus penuh peluang.
"I was raised with two stories about Harvard, both of which I believe to be true," ujar Noah Feldman, Profesor Universitas Porter.
Feldman mengingatkan peserta pada kebijakan pembatasan kuota mahasiswa Yahudi era 1920-an di bawah kepemimpinan Presiden A. Lawrence Lowell, sebelum akhirnya berubah menjadi keterbukaan besar pada paruh kedua abad ke-20.
"to come to terms with changing circumstances in the world and on campus and their effects on Jewish experience here," kata Noah Feldman, Profesor Universitas Porter.
Pembicara berikutnya, sejarawan dari Universitas Johns Hopkins, James Loeffler, menyoroti pola pengabaian oleh pejabat universitas yang sengaja menghindari penyebutan istilah antisemitisme secara eksplisit dalam pernyataan resmi.
"a sense of belonging and not belonging," ujar James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Loeffler melayangkan kritik terhadap reaksi diam otoritas kampus saat terjadi unjuk rasa kelompok nasionalis kulit putih di Charlottesville pada 2017.
"What was also shocking to me," kata James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Menurutnya, keheningan serupa juga terjadi di kubu politik kanan Amerika Serikat, termasuk keengganan Presiden Trump saat itu untuk mengecam kelompok alt-right tanpa keraguan.
"Jews will not replace us," kenang James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Lebih lanjut, Loeffler memperingatkan risiko birokratisasi penanganan antisemitisme menjadi kebijakan tunggal kaku yang berpotensi menurunkan kredibilitas perjuangan dan mengabaikan masalah rasisme serta seksisme.
"did not mention Jews or antisemitism," papar James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Kritik Loeffler mengarah pada cara kepemimpinan politik yang merespons peristiwa rasisme tersebut secara ekuivokasi, sehingga ia menegaskan pentingnya universitas untuk tetap menegakkan komitmen terhadap keberagaman.
"the silence was also deafening," tambah James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Ia mengingatkan bahwa mereduksi perjuangan melawan kebencian menjadi kebijakan tunggal yang kaku justru akan mencederai upaya kolektif seluruh komunitas akademik dalam melawan prasangka.
"very fine people on both sides," tutur James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Kendati demikian, Loeffler tetap optimis bahwa institusi pendidikan tinggi merupakan ruang terbaik untuk memecahkan kebuntuan sosial melalui penelusuran kebenaran secara jujur.
"Fighting antisemitism became a policy…to the point of elevating it to a primary concern while simultaneously downgrading other hatreds and other concerns," ujar James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Ia menekankan bahwa tugas institusi pendidikan tinggi dalam mengejar kebenaran dan menghargai perbedaan masih memerlukan proses panjang yang dinamis.
"The university is unfinished," kata James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
"but the work of fearless inquiry, respect for difference, the pursuit of truth that unites rather than divides, that work continues," lanjut James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Dalam sesi terpisah, Profesor studi Yahudi Dartmouth, Susannah Heschel, menarik paralel antara situasi sosiologis kampus Amerika saat ini dengan ambivalensi universitas di Jerman pada abad ke-19.
Sementara itu, Sejarawan Universitas Ben-Gurion, Arieh Saposnik, menilai demonstrasi mahasiswa terkait konflik di Gaza cenderung membingkai identitas Yahudi secara bias sebagai kekuatan kolonial asing.
"From the river to the sea," sebut Arieh Saposnik, Sejarawan Universitas Ben-Gurion.
Saposnik berargumen bahwa slogan dan simplifikasi tersebut mengabaikan cara orang Yahudi memahami identitas mereka serta mengulangi pola permusuhan lama.
"assume the status of Jews as unequivocally foreign invaders who have no interest in Palestine that is in any way different from the interests of European imperial powers in the territories they captured," ujar Arieh Saposnik, sejarawan Universitas Ben-Gurion.
Di samping perkembangan isu sosial tersebut, Intercollegiate Sailing Association (ICSA) mengumumkan daftar All-Academic Team 2025-26 yang memberikan penghargaan berskala nasional kepada 255 pelaut jenjang junior dan senior di seluruh AS.
Penghargaan ini mensyaratkan atlet berkompetisi dalam minimal tujuh regatta serta mempertahankan IPK kumulatif minimal 3,4 dari skala 4,0.
Berdasarkan rilis resmi, Universitas Harvard meloloskan 10 atlet yang merupakan jumlah terbanyak bagi program mereka sejak 2023, Brown University meraih 15 slot, dan University of Hawaiʻi at Mānoa meloloskan enam atlet termasuk Amanda Turner serta Erik Anderson.
Pengumuman ini bertepatan dengan partisipasi tim-tim tersebut dalam Kejuaraan Nasional ICSA Fleet Racing di St. Petersburg, Florida, dengan kategori wanita berlangsung hingga 18 Mei, diikuti kejuaraan terbuka pada 19 hingga 22 Mei 2026.
8 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·