Pandangan Islam mengenai rezeki jauh melampaui sekadar harta benda, mencakup segala nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Ini meliputi kesehatan, keluarga, ilmu, serta kesempatan untuk melakukan kebaikan, demikian dilansir dari Cahaya pada Jumat (23/2/2026).
Meskipun Al-Qur'an berulang kali menegaskan bahwa rezeki telah diatur oleh Allah SWT, ketetapan ini tidak berarti manusia boleh berdiam diri. Islam menekankan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar (usaha), tawakal (menyerahkan hasil kepada Allah), dan rasa syukur atas setiap anugerah.
Konsep ini dijelaskan dalam berbagai ayat Al-Qur'an. Para ulama tafsir, seperti M. Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al-Mishbah, menyatakan bahwa rezeki tidak selalu bermakna materi, melainkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Salah satu ayat kunci adalah Surah Hud Ayat 6 yang menyatakan, "Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz)." Ayat ini menjadi landasan keyakinan bahwa semua makhluk hidup berada dalam pengawasan Allah SWT.
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menyoroti luasnya rahmat Allah yang mengetahui setiap keadaan makhluk-Nya. Meskipun demikian, jaminan rezeki bukan alasan untuk bermalas-malasan, sebab Nabi Muhammad SAW dalam banyak hadis memerintahkan umatnya untuk bekerja dan mencari nafkah.
Surah At-Talaq Ayat 3 memperkuat konsep tawakal dengan menjelaskan bahwa Allah dapat memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Sayyid Qutb dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an menekankan bahwa rezeki tidak selalu datang melalui jalur yang direncanakan manusia, melainkan seringkali dari pintu yang tidak diperkirakan.
Konsep tawakal mendorong Muslim untuk berusaha maksimal dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Ulama juga mengaitkan ayat ini dengan ketakwaan, di mana kedekatan dengan Allah menjadi salah satu kunci terbukanya pintu rezeki.
Prinsip ikhtiar lebih lanjut ditekankan dalam Surah An-Najm Ayat 39-41, yang berbunyi, "Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna."
M. Quraish Shihab dalam Pengantar Studi Al-Qur’an menjelaskan bahwa ayat ini menolak fatalisme, menegaskan bahwa usaha manusia adalah bagian dari hukum alam yang diatur Allah. Oleh karena itu, manusia diperintahkan untuk bekerja, belajar, dan berusaha secara optimal.
Selain usaha fisik, sedekah juga dianggap sebagai pembuka pintu rezeki, seperti dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah Ayat 245. Allah menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang bersedekah. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menyebut sedekah sebagai “logika spiritual” yang justru menambah harta.
Sementara itu, istighfar (memohon ampun) juga disebut dalam Surah Nuh Ayat 10-12 sebagai sarana mendatangkan kelapangan rezeki. Dosa diyakini dapat menghalangi datangnya rezeki, sehingga memperbanyak istighfar dianjurkan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Jawab Al-Kafi menjelaskan bahwa istighfar memiliki dampak spiritual besar, termasuk membuka pintu rezeki dan menghilangkan kesulitan hidup. Rezeki dalam konteks ini tidak hanya materi, tetapi juga anak, kebun, dan kehidupan yang baik.
Surah Al-Baqarah Ayat 212 dan Surah Al-Isra Ayat 30 menegaskan kebebasan mutlak Allah dalam melapangkan atau menyempitkan rezeki bagi siapa pun yang Dia kehendaki. Kondisi ini seringkali menjadi ujian kehidupan, di mana kekayaan atau kemiskinan berfungsi sebagai sarana ujian bagi manusia.
Pada akhirnya, pemahaman rezeki dalam Islam mencakup keyakinan bahwa Allah adalah pemberi rezeki, manusia wajib berusaha, serta ketakwaan, sedekah, dan istighfar dapat membuka pintu rezeki. Rezeki sejati tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari keberkahan dan ketenangan hati yang menyertainya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·