Amerika Serikat dan Iran Berebut Kendali Selat Hormuz

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam persaingan ketat memperebutkan kendali atas Selat Hormuz pada Kamis, 23 April 2026, setelah kedua pihak gagal bertemu dalam perundingan damai. Jalur perairan vital tersebut kini menjadi objek saling blokade di tengah upaya kedua negara mencari posisi tawar selama masa gencatan senjata.

Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata yang telah disepakati sejak 7 April lalu tanpa batas waktu yang ditentukan. Dilansir dari Bloombergtechnoz, kebijakan ini diambil sembari menanti Iran mengajukan proposal perdamaian baru, meski Teheran menyatakan belum berencana mengikuti negosiasi dalam waktu dekat.

"Presiden Trump belum menetapkan tenggat waktu yang pasti untuk menerima proposal dari Iran," kata Karoline Leavitt, Juru Bicara Gedung Putih.

Leavitt juga memberikan klarifikasi mengenai laporan media yang menyebutkan adanya batas waktu singkat untuk kesepakatan tersebut.

"Saya tahu ada laporan anonim yang menyebutkan tenggat waktu tiga hingga lima hari. Itu tidak benar. Presiden belum menetapkan tenggat waktu. Pada akhirnya, dia yang akan menentukan jadwalnya," ujar Karoline Leavitt.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengkritik tindakan Amerika Serikat yang tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Melalui pernyataan resminya, Pezeshkian menegaskan bahwa blokade dan ancaman merupakan penghambat utama proses diplomasi yang sedang diupayakan.

"Begitu mereka menghentikan blokade ini, saya pikir putaran berikutnya dari perundingan akan berlangsung di Islamabad," kata Amir-Saeid Iravani, Utusan Iran untuk PBB.

Ketegangan ini memicu dampak ekonomi global yang signifikan dengan kenaikan harga minyak mentah Brent hingga melampaui US$101 per barel. Tekanan politik terhadap Trump meningkat seiring kenaikan harga bensin di Amerika Serikat ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir akibat terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

"Saya sangat menghargai bahwa Iran, dan para pemimpinnya, menghormati permintaan saya," tulis Donald Trump, Presiden AS, menanggapi keputusan Iran yang batal mengeksekusi sejumlah demonstran perempuan.

Kondisi di lapangan tetap memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menyita dua kapal komersial, MSC Francesca dan Epaminondas, untuk dilakukan pemeriksaan. Sebaliknya, Angkatan Laut AS sebelumnya juga sempat menyita kapal kargo milik Iran di kawasan Teluk Oman sebagai bagian dari operasi blokade.