Amerika Serikat memulai operasi militer bertajuk Project Freedom untuk memandu kapal-kapal komersial keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz pada Selasa, 5 Mei 2026. Langkah ini diambil Washington setelah Iran memblokir jalur perairan vital tersebut sejak awal konflik pada Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa operasi tersebut diawali dengan tindakan tegas helikopter militer Amerika terhadap aset laut Iran. Ketegangan meningkat seiring laporan adanya serangan terhadap kapal-kapal kargo dari berbagai negara di wilayah tersebut.
"Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, 'kapal cepat'. Itu saja yang mereka miliki," kata Presiden AS Donald Trump.
Pernyataan tersebut merujuk pada upaya pembukaan jalur bagi kapal yang terjebak. Trump juga menambahkan informasi mengenai dampak serangan terhadap kapal negara lain melalui media sosial.
"Iran telah menembak beberapa negara yang tidak terkait dengan pergerakan kapal, Proyek Freedom, termasuk sebuah Kapal Kargo Korea Selatan," ujar Trump.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa meskipun terjadi gesekan militer, kesepakatan penghentian permusuhan sementara yang dimulai sejak 8 April tetap dipantau secara ketat. Ia membedakan antara misi pengawalan dan operasi serangan.
“Jadi saat ini gencatan senjata memang berlaku, tetapi kami akan mengawasinya dengan sangat, sangat cermat,” kata Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat.
Hegseth menegaskan bahwa AS akan terus mengambil tindakan defensif yang diperlukan di wilayah perairan internasional tersebut. Ia juga menyinggung harapan terkait peran kepemimpinan Amerika Serikat.
“Pada akhirnya ini adalah proyek yang terpisah dan berbeda. Kami memperkirakan akan ada beberapa gejolak di awal, yang memang terjadi," ujarnya.
Hegseth melanjutkan penjelasannya mengenai kesiapan militer dalam merespons tindakan Iran di lapangan.
"Kami mengatakan bahwa kami akan membela dan membela secara agresif, dan kami benar-benar telah melakukannya. Iran tahu itu,” sambungnya.
Menhan AS juga menyoroti pentingnya jalur navigasi global ini bagi ekonomi dunia dan perlunya kerja sama internasional.
“Pada akhirnya, jalur air ini, seperti yang saya katakan, jauh lebih penting bagi seluruh dunia, dan mereka perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankannya,” jelas Pete Hegseth.
Hegseth menutup pernyataannya dengan memberikan catatan kepada negara-negara sekutu terkait kontribusi keamanan di kawasan tersebut.
“Kami berharap Korea Selatan akan meningkatkan upayanya, sama seperti kami berharap Jepang akan meningkatkan upayanya, sama seperti kami berharap Australia akan meningkatkan upayanya, sama seperti kami berharap Eropa akan meningkatkan upayanya,” ujarnya.
Pihak militer AS tetap siaga meskipun belum meningkatkan status operasi ke level tempur besar-besaran. Keputusan ini didasarkan pada penilaian terhadap intensitas serangan Iran belakangan ini.
"Iran telah menembaki kapal-kapal komersial sebanyak sembilan kali, menyita dua kapal kontainer, dan menyerang pasukan militer AS lebih dari 10 kali sejak gencatan senjata dimulai," kata Dan Caine, Kepala Staf Gabungan AS.
Jenderal Caine menyatakan bahwa pasukan di lapangan hanya menunggu instruksi lebih lanjut jika situasi memburuk.
"Tindakan-tindakan tersebut semuanya berada di bawah ambang batas untuk memulai kembali operasi tempur besar-besaran saat ini," tambahnya.
Pihak militer juga mengingatkan agar pihak lawan tidak menganggap sikap tenang AS sebagai kelemahan militer.
"Tidak ada musuh yang boleh salah mengartikan sikap menahan diri kita saat ini sebagai kurangnya tekad," tutur Dan Caine.
Di sisi lain, Teheran mengecam keras operasi Project Freedom yang dianggap sebagai bentuk agresi militer. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menekankan bahwa solusi militer tidak akan menyelesaikan krisis politik yang sedang berlangsung.
"Proyek kebebasan adalah proyek kebuntuan," cetus Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Klaim mengenai kontrol wilayah perairan juga dipertegas oleh petinggi militer Iran. Mayor Jenderal Ali Abdollahi memperingatkan konsekuensi bagi pasukan asing yang mencoba masuk tanpa izin.
"setiap kekuatan bersenjata asing" yang mencoba mendekati atau memasuki selat itu, "terutama tentara AS yang agresif," ujar Mayor Jenderal Ali Abdollahi, Kepala Komando Pusat Iran.
Abdollahi menegaskan bahwa koordinasi dengan otoritas Iran bersifat wajib bagi setiap kapal yang melintas.
US Central Command mencatat keberhasilan awal operasi ini melalui pembebasan kapal Alliance Fairfax milik Maersk. Namun, tantangan logistik tetap besar karena sekitar 20.000 pelaut masih terjebak di area konflik tersebut.
“Sebagai langkah pertama, 2 kapal dagang berbendera AS telah berhasil melintasi Selat Hormuz dan dengan aman melanjutkan perjalanan mereka,” tulis Centcom di X.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·