Amerika Serikat Sita Kapal Kargo Iran di Tengah Penutupan Selat Hormuz

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Militer Amerika Serikat menyita paksa sebuah kapal kargo berbendera Iran, Touska, yang diduga mencoba menembus blokade laut di dekat Selat Hormuz pada Minggu, 19 April 2026. Insiden di Teluk Oman ini bertepatan dengan masih tertahannya dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping akibat pengetatan jalur pelayaran oleh otoritas Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa tindakan tersebut merupakan intersepsi pertama sejak blokade pelabuhan Iran dimulai pekan lalu. Kapal tersebut kini berada dalam kendali Marinir AS untuk pemeriksaan muatan lebih lanjut setelah dilumpuhkan di bagian mesin.

"Dihentikan tepat di tempat dengan melubangi ruang mesin," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pihak militer Iran menyatakan bahwa mereka sengaja tidak melakukan perlawanan balik saat serbuan terjadi di perairan Laut Oman. Juru Bicara Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menjelaskan bahwa pertimbangan kemanusiaan menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.

"Menyusul agresi nyata oleh komando AS terhadap kapal dagang Iran di perairan Laut Oman, angkatan bersenjata Republik Islam Iran siap untuk merespons secara tegas terhadap pasukan Amerika yang menyerang. Namun, karena kehadiran beberapa anggota keluarga awak kapal, mereka menghadapi keterbatasan untuk menjaga keselamatan dan keamanan individu-individu tersebut, yang berisiko setiap saat," kata Ebrahim Zolfaghari, Juru Bicara Khatam al-Anbiya.

Ketegangan ini berdampak langsung pada operasional kapal Indonesia, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Arab sejak awal Maret 2026. PT Pertamina International Shipping (PIS) menyatakan terus memantau situasi dinamis ini dengan memprioritaskan keamanan personel.

"Kedua kapal PIS yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz," kata Vega Pita, Pjs Corporate Secretary PIS.

Vega menambahkan bahwa perusahaan saat ini sedang menyusun rencana pelayaran yang aman sembari menjalin komunikasi intensif dengan berbagai kementerian dan otoritas berwenang. Langkah ini diambil untuk memastikan perlindungan penuh terhadap seluruh aset perusahaan.

"Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman," ujar Vega Pita, Pjs Corporate Secretary PIS.

Hingga saat ini, PIS masih menunggu kepastian kondisi keamanan di jalur strategis tersebut agar operasional distribusi kembali normal. Keselamatan awak kapal ditegaskan sebagai poin yang tidak bisa ditawar dalam menghadapi eskalasi geopolitik ini.

"Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya," katanya Vega Pita, Pjs Corporate Secretary PIS.

Harapan besar disampaikan oleh manajemen PIS agar jalur perdagangan vital tersebut kembali kondusif dalam waktu dekat. Situasi Selat Hormuz diketahui kembali memanas setelah adanya kontrol ketat dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sejak 18 April 2026.

"Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif agar kapal Pertamina Pride serta Gamsunoro dapat segera melanjutkan pelayaran dengan aman," ucap Vega Pita, Pjs Corporate Secretary PIS.

Pihak IRGC melalui kantor berita Tasnim menegaskan bahwa pengelolaan penuh Selat Hormuz kini berada di bawah kendali angkatan bersenjata Iran. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.

"Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur perairan strategis itu kini berada di bawah pengelolaan dan kendali ketat angkatan bersenjata," demikian pernyataan komando gabungan IRGC.