PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Palangka Raya mulai membawa dampak domino.
Tidak hanya menguji kesabaran warga biasa, kondisi ini kini secara langsung memukul denyut nadi perekonomian para pengemudi ojek online (ojol) yang menggantungkan hidupnya di jalanan.
Waktu operasional yang seharusnya digunakan untuk mencari penumpang kini habis terkuras di jalur antrean SPBU.
Hal ini berkaitan penumpukan kendaraan dibeberapa SPBU di Palangka Raya, akibat minimnya ketersediaan BBM di tingkat pengecer dan sistem jalur antrean yang dinilai kurang adil bagi pengendara motor.
Erwanto (24), salah satu pengemudi ojol di Palangka Raya, mengeluhkan perubahan drastis durasi antrean yang sangat merugikan ritme kerjanya. Menurutnya, distribusi BBM yang terkesan digilir atau tidak merata di setiap SPBU semakin mempersulit keadaan.
“Sangat merugikan waktu. Biasanya ngantre hanya 5 menit, tiba-tiba sekarang menjadi setengah jam bahkan sampai satu jam. Itu pun tidak semua SPBU menyediakan, sepertinya di rolling (bergantian),” ungkap Erwanto saat diwawancara awak media dipangkalan ojol. Kamis (7/5/26).
Ia menambahkan, kelangkaan ini ibarat mematikan mesin pencaharian para ojol sebelum mereka sempat bekerja.

“Dampaknya kalau kesulitan mendapatkan BBM, berarti kita ojol tidak bisa memulai (online) aplikasi. Karena BBM saja tidak ada, bagaimana kita mau jalan mencari penumpang? Saran saya, Pertamina harus segera berbenah,” tegasnya.
Dampak kerugian finansial yang lebih riil dirasakan oleh Marko (23), yang berprofesi ganda sebagai mahasiswa sekaligus pengemudi ojol.
Baginya, antrean panjang ini bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan hilangnya potensi pendapatan harian yang cukup signifikan.
“Sebagai ojol, mengantre BBM saat ini sangat menguras waktu dan tenaga. Dulu 15 menit sudah selesai, sekarang bisa 1 sampai 2 jam. Waktu kami untuk narik (mencari penumpang) jadi menyempit. Padahal dalam rentang waktu terbuang itu, kami biasanya sudah bisa dapat 5 sampai 7 orderan dalam sehari,” beber Marko.
Marko juga menyoroti imbas dari penertiban pelangsir yang membuat ketersediaan BBM eceran di pinggir jalan menjadi sangat langka, sehingga seluruh pengguna motor terpaksa menumpuk di SPBU.
“Cari BBM di eceran pun susah. Hanya gara-gara antre BBM, pemasukan kami berkurang drastis,” keluhnya.
Kondisi ini merupakan imbas langsung dari penumpukan yang terjadi, seperti contoh sebelumnya dilaporkan di SPBU Jl. Soekarno, di mana pengguna motor harus berdesakan di jalur pengisian.
Ketika opsi membeli di pengecer hilang dan infrastruktur pelayanan di SPBU tidak ditingkatkan, masyarakat pekerja harian seperti ojol yang harus menanggung beban kerugian waktu dan materi.
Mewakili rekan-rekan seprofesinya, Marko berharap ada langkah konkret dari pemangku kebijakan.
“Semoga Pertamina dan pemerintah daerah dapat segera memberikan solusi terkait hal ini,” tutupnya penuh harap. (her)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Fenomena antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Palangka Raya mulai membawa dampak domino.
Tidak hanya menguji kesabaran warga biasa, kondisi ini kini secara langsung memukul denyut nadi perekonomian para pengemudi ojek online (ojol) yang menggantungkan hidupnya di jalanan.
Waktu operasional yang seharusnya digunakan untuk mencari penumpang kini habis terkuras di jalur antrean SPBU.

Hal ini berkaitan penumpukan kendaraan dibeberapa SPBU di Palangka Raya, akibat minimnya ketersediaan BBM di tingkat pengecer dan sistem jalur antrean yang dinilai kurang adil bagi pengendara motor.
Erwanto (24), salah satu pengemudi ojol di Palangka Raya, mengeluhkan perubahan drastis durasi antrean yang sangat merugikan ritme kerjanya. Menurutnya, distribusi BBM yang terkesan digilir atau tidak merata di setiap SPBU semakin mempersulit keadaan.
“Sangat merugikan waktu. Biasanya ngantre hanya 5 menit, tiba-tiba sekarang menjadi setengah jam bahkan sampai satu jam. Itu pun tidak semua SPBU menyediakan, sepertinya di rolling (bergantian),” ungkap Erwanto saat diwawancara awak media dipangkalan ojol. Kamis (7/5/26).
Ia menambahkan, kelangkaan ini ibarat mematikan mesin pencaharian para ojol sebelum mereka sempat bekerja.
“Dampaknya kalau kesulitan mendapatkan BBM, berarti kita ojol tidak bisa memulai (online) aplikasi. Karena BBM saja tidak ada, bagaimana kita mau jalan mencari penumpang? Saran saya, Pertamina harus segera berbenah,” tegasnya.
Dampak kerugian finansial yang lebih riil dirasakan oleh Marko (23), yang berprofesi ganda sebagai mahasiswa sekaligus pengemudi ojol.
Baginya, antrean panjang ini bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan hilangnya potensi pendapatan harian yang cukup signifikan.
“Sebagai ojol, mengantre BBM saat ini sangat menguras waktu dan tenaga. Dulu 15 menit sudah selesai, sekarang bisa 1 sampai 2 jam. Waktu kami untuk narik (mencari penumpang) jadi menyempit. Padahal dalam rentang waktu terbuang itu, kami biasanya sudah bisa dapat 5 sampai 7 orderan dalam sehari,” beber Marko.
Marko juga menyoroti imbas dari penertiban pelangsir yang membuat ketersediaan BBM eceran di pinggir jalan menjadi sangat langka, sehingga seluruh pengguna motor terpaksa menumpuk di SPBU.
“Cari BBM di eceran pun susah. Hanya gara-gara antre BBM, pemasukan kami berkurang drastis,” keluhnya.
Kondisi ini merupakan imbas langsung dari penumpukan yang terjadi, seperti contoh sebelumnya dilaporkan di SPBU Jl. Soekarno, di mana pengguna motor harus berdesakan di jalur pengisian.
Ketika opsi membeli di pengecer hilang dan infrastruktur pelayanan di SPBU tidak ditingkatkan, masyarakat pekerja harian seperti ojol yang harus menanggung beban kerugian waktu dan materi.
Mewakili rekan-rekan seprofesinya, Marko berharap ada langkah konkret dari pemangku kebijakan.
“Semoga Pertamina dan pemerintah daerah dapat segera memberikan solusi terkait hal ini,” tutupnya penuh harap. (her)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·