Antropolog nilai diplomasi budaya keraton perlu melibatkan komunitas

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto mengatakan diplomasi budaya untuk memperkenalkan keraton sebagai warisan budaya Indonesia perlu melibatkan komunitas lokal yang menjadi penggerak kebudayaan.

"Jangan sampai ada missing link (garis yang hilang), komunitas, para penggerak yang ada di keraton ini. Kalau di Jawa abdi dalem, para punggawa, para hulu balang yang ada di situ, ini aktor utamanya. Jadi, saya mau sampaikan, diplomasi budaya melalui keraton, mestinya disampaikan lewat praktek ini,” kata Aji dalam diskusi yang menjadi bagian dari acara pameran lukisan "Revitalisasi Keraton Nusantara" di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Jumat.

Peran keraton dalam diplomasi budaya sangat penting, namun, perlu melibatkan para pelaku budaya yang dapat menceritakan bukan hanya bangunan dan sejarahnya, tapi, juga sebagai satu proses sosial yang membangun kedekatan secara kultural. Dia juga menyoroti diplomasi budaya juga seringkali masih bersifat reaktif, dan selalu meletakkan warisan budaya hanya sebagai display atau pameran yang akhirnya mereduksi pada budaya yang hanya ikon simbolik.

Baca juga: Revitalisasi keraton bisa diwujudkan dalam inovasi pengalaman kreatif

Aji mengatakan keraton perlu dijadikan sebagai satu praktek warisan yang tidak bisa berhenti, namun, harus terus dipelihara dan diteruskan sebagai satu praktek konsep warisan.

"Keraton itu tradisinya tidak berhenti sekarang, tapi, sedang berkembang terus. Dan saya berharap teman-teman pendukung Keraton Nusantara tidak stop hanya menjaga dan meneruskan warisan masa lalu, tapi, juga mengembangkan terus ke depan,” kata dia.

Proses pengembangan warisan budaya sebagai diplomasi ke kancah internasional bisa melibatkan komunitas lokal dengan mempelajari warisan tradisi pada sesama kerajaan atau keraton di luar negeri sehingga menghasilkan kolaborasi kreasi yang tidak hanya sebagai etalase, namun, menjadi proses penciptaan pelestarian budaya yang aktif.​​​​​​​

Diplomasi budaya, kata sang akademisi, kini harus bergerak dari pendekatan heritage display (pameran warisan) kepada pendekatan baru soal relasi dan proses penciptaan bersama yang di dalamnya melibatkan komunitas sebagai pelaku diplomasi budaya.

Baca juga: FSKN gelar pameran lukisan "Revitalisasi Keraton Nusantara"

Baca juga: Warisan budaya bisa diangkat dengan sentuhan kreativitas

Baca juga: Menbud dorong penguatan peran keraton sebagai pusat edukasi budaya

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.