Jakarta (ANTARA) - Artotel Group bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) meresmikan ruang pameran arsip yang merefleksikan jejak sejarah kawasan Cikini dan ekspresi seni Raden Saleh.
Chief Operating Officer Artotel Group Eduard Rudolf Pangkerego mengatakan acara yang digelar bertepatan dengan dimulainya kegiatan operasional Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated (PRS) memperkuat komitmen hotel dalam menghadirkan ruang temu antara seni dan hospitality di kawasan Taman Ismail Marzuki.
"Pameran ini menjadi langkah awal kami untuk menghadirkan program-program budaya yang relevan dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari ekosistem seni di Taman Ismail Marzuki, Paviliun Raden Saleh diharapkan dapat menjadi ruang kolaboratif bagi seniman, kurator, komunitas, serta publik luas untuk saling bertukar gagasan dan inspirasi," kata Eduard dalam sambutannya di Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated (PRS), TIM, Jakarta, Senin.
Pameran arsip yang bertajuk “Raden Saleh & Cikini, Genealogi Ruang, Seni, dan Ingatan" menyoroti nilai historis kawasan Cikini, khususnya Taman Ismail Marzuki yang dulunya merupakan bagian dari kompleks kediaman Raden Saleh.
Baca juga: Puluhan ribu orang kunjungi TIM sepanjang libur natal-tahun baru
Salah satu lukisan terkenal Raden Saleh yang menjadi mural di Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated (PRS), Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (20/4/2026) (ANTARA/Fitra Ashari)Baca juga: Sejarah dan kebangkitan Planetarium Jakarta usai 13 tahun tutup
Melalui pendekatan kuratorial berbasis arsip, pengunjung diajak memahami genealogi ruang dan memori yang membentuk identitas Cikini sebagai episentrum kreativitas. Beragam materi arsip, dokumentasi visual, serta narasi sejarah disajikan untuk memberikan pengalaman yang reflektif sekaligus edukatif.
Eduard mengatakan pameran ini tidak hanya akan menambahkan nilai pengalaman menginap tamu di hotel yang nyaman namun juga bernilai artistik budaya, serta menjadi ruang pertemuan untuk masyarakat umum dan pencinta seni.
Eduard mengatakan kerja sama dengan DKJ juga menandakan kolaborasi yang terjalin dalam mewujudkan pameran “Raden Saleh & Cikini” ini menjadi bukti pentingnya sinergi antara pelaku industri hospitality dan institusi seni dalam menghidupkan kembali narasi sejarah serta memperkaya ekosistem budaya di Jakarta.
Baca juga: ADGI Design Week 2025 soroti desain grafis dalam berbagai medium
Ketua Dewan Kesenian Jakarta Bambang Prihadi mengatakan kehadiran Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated menjadi salah satu fasilitas kawasan seni dalam ekosistem TIM yang telah hilang selama 30 tahun yang bisa dikembangkan untuk pertemuan kebudayaan dan lintas seni.
"Setelah lebih dari 30 tahun, TIM kehilangan wisma seni yang mendukung kebutuhan pelaku seni khususnya yang berasal dari luar kota Jakarta. Karena misi yang dilakukan oleh kita semua di tempat ini adalah bagaimana kreativitas, seni kreatif itulah yang diutamakan. Jadi dari dulu tuh gak berubah tuh, ada seni kreatif, ada seni hiburan, di dalamnya populer, nah seni kreatif ini tempatnya," kata Bambang.
Baca juga: Taman Ismail Marzuki ditargetkan jadi sentral sinema di Jakarta
Salah satu sudut pameran arsip “Raden Saleh & Cikini, Genealogi Ruang, Seni, dan Ingatan" di Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated (PRS), Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (20/4/2026) (ANTARA/Fitra Ashari)Pameran ini berlangsung di Selasar Nashar, ruang seni PRS yang terletak di lantai 8 dan dapat dikunjungi oleh masyarakat, pencinta seni, dan tamu hotel mulai tanggal 21 April 2026.
Pada periode pembukaan, Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated juga menghadirkan penawaran spesial harga kamar mulai dari Rp 630.000 per malam.
Baca juga: DKI berharap Jakpro jadi pembangun kota modern dan berkelanjutan
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·