Azizah Candrasari bocah perempuan berusia 6,5 tahun pencari rongsok yang merawat ayahnya yang sakit serta mengasuh adiknya di sebuah kos di Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta kini diasuh di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai di Kotagede, Yogyakarta.
Adiknya yang berusia 5 tahun, juga dirawat di yayasan itu. Yayasan tersebut milik Ipda Ali Nur Suwandi atau akrab disapa Bon Ali, Kanit Provos Polsek Kotagede, Polresta Yogyakarta.
"Saya sudah koordinasi dengan dinas DP3AP2 untuk di tindak lanjut. Sudah dijangkau mas oleh DP3AP2 Kota dan dua anaknya sudah di Yayasan Bumi Damai," kata Kepala Dinsos DIY Endang Patmintarsih, dikonfirmasi, Sabtu (18/4).
Bon Ali saat dikonfirmasi membenarkan Azizah dan adiknya sudah di yayasannya.
"Sudah di yayasanku. Sudah di Rumah Singgah Bumi Damai," kata Bon Ali.
Bon Ali mengatakan kasihan jika Azizah dan adiknya tetap di kos. Pasalnya, kos tersebut berada di tepi Sungai Gajah Wong dan dinilai berbahaya.
"Mesakke (kasihan) di sana rawan. Depannya kan sungai kalau anak kecil bisa kecemplung kan bahaya," katanya.
Tak hanya dirawat, di yayasan tersebut kedua bocah ini akan mendapatkan pendidikan formal sama dengan anak-anak yang selama ini tinggal di Yayasan Bumi Damai.
"Harapan kita, kita bersama-sama untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat yang lagi kesusahan tentunya supaya masyarakat itu hatinya biar tenang, biar damai, tenteram," kata Bon Ali.
Sebelumnya, sehari-hari Azizah juga membantu ayahnya mencari rongsok. Dia mencari botol bekas hingga kardus di berbagai tempat termasuk sekitar pasar.
Sementara, ibu Azizah pergi entah ke mana beberapa tahun yang lalu.
Masih jaga asa jadi Polwan
Di tengah keterbatasan dan kesulitan hidup. Azizah terus menjaga asa untuk meraih cita-citanya sebagai polisi wanita atau polwan.
"Cita-cita jadi Polwan," kata Azizah.
Hermanto (56 tahun) juga berharap ada bantuan bagi kedua anaknya. Dia ingin sang anak bisa menggapai apa yang dicita-citakan.
"Makanya udah TK besar kata gitu, tapi mau masuk ke SD tempat lain kan perlu biaya. (Azizah) maunya jadi polwan," kata Hermanto.
Hermanto mengatakan dia tinggal bersama dua anaknya di kos yang disewa Rp 400 ribu. Kos sederhana berukuran 3x2,5 meter itu berada tepat di samping sungai Gajah Wong.
Setiap minggunya Hermanto harus menyisihkan uang Rp 100 ribu untuk membayar kos. Makan pun mereka seadanya.
"Jadi beli nasi Rp 5 ribu karena 2 bungkus Rp 10 ribu. Dibagi orang tiga, makan. Makan orang tiga gitu. Ini pagi siang Rp 10 ribu, sore Rp 10 ribu. Jadi Rp 20 ribu," katanya.
Dahulu sebelum memakai sepeda, Hermanto mengajak dua ankanya mencari rongsok dengan gerobak.
"Terpaksa ikut. Mau titip sama orang ya nggak mau. Jadi terpaksa ikut. Pakai gerobak dulu," katanya.
Dia mengatakan sakit benjol di kepala itu muncul sejak dua tahun silam. Lama kelamaan benjolan semakin membesar.
"Kan sudah dua minggu (sakitnya). Dia (Azizah) nyuci baju, ya bersihin aja. Nyuci piring, pijetin, sering ke warung. Ini kan sakit ini (kepala)," katanya.
Dahulu sakit ini pernah dia periksakan ke dokter. Namun tak jelas sakit apa yang dialami. Benjolan ini tak kujung hilang.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·