Kehadiran platform B57+ Asia Pacific menjadi alternatif strategis untuk memitigasi risiko hambatan jalur distribusi dan hubungan bisnis akibat tekanan geopolitik di Timur Tengah melalui kolaborasi lintas sektor yang diperkenalkan pada Halal Bihalal B57+ di Jakarta.
Pemanfaatan platform ini dinilai krusial sebagai langkah penguatan kerja sama ekonomi antarnegara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, Indonesia memegang peranan kunci dalam koordinasi kawasan ini demi menjaga stabilitas ekonomi global.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menekankan pentingnya transparansi strategi dari sektor publik maupun swasta. Hal ini diperlukan agar para pelaku usaha mendapatkan gambaran nyata mengenai potensi kolaborasi yang dapat diimplementasikan ke depan.
"Dengan mengedepankan kerja sama yang saling menguntungkan tanpa intervensi kepentingan politik atau agama, aktivitas bisnis diharapkan dapat berjalan lebih stabil," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Liza juga menyoroti posisi strategis Indonesia yang menjadi titik penting dalam ekosistem kerja sama bisnis ini. Menurutnya, platform tersebut sangat relevan dalam menghadapi situasi dunia yang sedang diliputi ketidakpastian geopolitik yang signifikan.
"Kehadiran platform ini berpotensi menjadi solusi dalam meredam dampak ketegangan geopolitik global, melalui kolaborasi yang netral dan berorientasi pada keuntungan bersama maka stabilitas ekonomi dapat tetap terjaga," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Ketua Umum B57+ Asia Pacific, Arsjad Rasjid menjelaskan bahwa pembentukan regional chapter pada Februari 2026 merupakan langkah nyata di tengah fragmentasi dunia. Inisiatif ini difokuskan untuk mencapai kesejahteraan merata serta perdamaian melalui jalur ekonomi.
"Sebagai mitra strategis, B57+ Asia Pacific Regional Chapter berperan dalam mendorong perdagangan antar mitra organisasi kerjasama Islam melalui structured business networks, penguatan investasi lintas negara, serta merumuskan kebijakan yang konkrit dengan menjembatani prioritas sektor swasta dan agenda strategis pemerintah," jelas Arsjad Rasjid, Ketua Umum B57+ Asia Pacific.
Penetapan Indonesia sebagai pusat koordinasi Asia Pasifik didasarkan pada faktor demografis populasi Muslim terbesar serta kekuatan ekonomi nasional. Indonesia secara konsisten berada di posisi tiga besar dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI).
Fokus kerja sama dalam chapter ini mencakup empat pilar prioritas. Prioritas tersebut meliputi ketahanan rantai pasok lintas batas, reformasi regulasi berbasis bukti, perluasan peran keuangan syariah, serta pembukaan akses pasar dan permodalan yang lebih luas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·