Badan Geologi: Aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih tinggi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih tinggi, sehingga statusnya tetap pada level III atau siaga berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 30 April 2026.

"Kami telah melakukan evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Semeru baik melalui pengamatan visual maupun instrumental pada periode 23-30 April 2026," katanya dalam siaran pers yang diterima di Lumajang, Selasa.

Aktivitas Gunung Semeru pada periode 23-30 April 2026 memperlihatkan bahwa aktivitas masih didominasi oleh proses permukaan. Aktivitas erupsi, awan panas dan guguran lava masih terjadi, namun secara visual jarang teramati karena terkendala dengan cuaca yang berkabut.

Menurutnya akumulasi material hasil erupsi (letusan dan aliran lava) maupun pembentukan "scoria cones" berpotensi menjadi guguran lava pijar, ataupun awan panas.

"Material guguran lava atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru berpotensi menjadi lahar jika berinteraksi dengan air hujan," katanya.

Selain itu, interaksi endapan material guguran lava atau awan panas yang bersuhu tinggi dengan air sungai akan berpotensi terjadinya erupsi sekunder.

Baca juga: Gunung Semeru erupsi disertai awan panas guguran sejauh 2 km

Dalam periode itu, jumlah gempa yang terekam menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Gunung Semeru masih relatif tinggi, terutama gempa letusan, guguran, embusan, tremor harmonik dan vulkanik dangkal.

Aktivitas letusan berskala kecil-menengah tidak diikuti oleh indikasi penguatan suplai magma baru. Parameter variasi kecepatan seismik sempat mengalami penurunan menjelang kejadian awan panas pada 19 November 2025, kemudian berfluktuasi di sekitar nol sejak pertengahan Februari 2026.

"Kondisi itu menandakan bahwa sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami presurisasi, namun sangat rentan terhadap peningkatan tekanan," ujarnya.

Ia mengatakan terekamnya kejadian getaran banjir dalam periode itu mengindikasikan adanya kejadian lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama mengarah ke aliran Besuk Kobokan.

Pemantauan deformasi pada periode itu menunjukkan pola relatif stabil, mengindikasikan tidak adanya peningkatan tekanan di dalam tubuh gunung api ke permukaan bersamaan dengan keluarnya material saat erupsi dan embusan.

Baca juga: Gunung Semeru erupsi Minggu pagi, tinggi letusan capai 900 meter

Evaluasi terhadap data pemantauan menunjukkan bahwa awan panas yang masih terjadi saat ini merupakan respon mekanik dari material permukaan yang tidak stabil, bukan akibat proses magmatik.

"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 30 April 2026, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada level III (siaga) dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini," kata Lana.

Rekomendasinya masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

Di luar jarak tersebut, lanjut dia, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.

Ia juga minta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.

"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ujarnya.

Baca juga: Gunung Semeru dua kali erupsi dengan tinggi letusan 700 meter

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.