MANAJEMEN Digital Realty Bersama (DRB) memastikan risiko peningkatan panas akibat konsumsi energi data center selalu menjadi perhatian yang harus diantisipasi. Pergeseran kebutuhan komputasi ke operasional yang serba berbasis akal imitasi (AI), bagi DRB,, membuat perangkat bekerja dengan kapasitas lebih tinggi sehingga menghasilkan panas dalam jumlah besar. “Tuntutan kapasitas komputasi yang masif ini pada akhirnya memicu lonjakan suhu panas secara signifikan di dalam perangkat,” begitu bunyi jawaban tertulis perwakilan DRB kepada Tempo pada 30 April 2026.
Mengutip laporan premium Tempo: Seberapa Signifikan Pusat Data AI Menyumbang Kenaikan Suhu, euforia pembangunan pusat data penopang AI memang memunculkan kekhawatiran baru terkait peningkatan suhu di kawasan urban. Studi tim peneliti University of Cambridge yang terbit pada April 2026 menunjukkan suhu udara di sekitar fasilitas komputasi itu meningkat seiring tingginya konsumsi energi, termasuk untuk kebutuhan sistem pendingin.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Aktivitas komputasi berskala besar itu ikut berkontribusi terhadap urban heat island (UHI), yakni fenomena ketika suhu wilayah perkotaan lebih tinggi dibanding area non-urban di sekitarnya. Sebelum ekspansi pusat data, fenomena UHI cenderung timbul karena perubahan lanskap kota, dari mayoritas ruang terbuka menjadi barisan gedung. Struktur permukaan beton dan aspal, kata Ardhasena, mampu menyerap dan menyimpan panas saat siang hari.
Menurut DRB, sumber panas terbesar dalam operasional pusat data berasal dari IT equipment seperti server, storage, serta unit pemrosesan grafis (GPU). Perangkat tersebut memproses data secara terus-menerus sehingga menghasilkan panas dalam jumlah tinggi. Konsumsi energi yang besar juga datang dari alat distribusi listrik—sistem penyaluran daya yang menjaga pasokan listrik tetap stabil ke perangkat komputasi.
Untuk mengendalikan panas di dalam fasilitas, DRB menerapkan closed-loop system atau sistem sirkulasi tertutup dan insulasi khusus agar panas dari server dapat ditangkap dan dikelola di dalam bangunan. Perusahaan juga menggunakan advanced cooling alias sistem pendinginan terarah membuat aliran udara dingin terfokus ke perangkat yang membutuhkan saja.
Entitas yang mengelola dua kompleks pusat data di Jakarta, masing-masing CGK11 berkapasitas 5 Megawatt (MW) di Cawang, Jakarta Timur, serta CKG10 berkapasitas 1,5 MW di Jakarta Barat, tersebut juga mengoperasikan watermist atau kabut air bertekanan rendah di area atap dan sudut gedung. “Metode ini membantu menurunkan temperatur udara di sekitar bangunan sekaligus mengurangi kontaminan debu,” begitu pernyataan DRB.
Pada jalur distribusi listrik, DRB menekan electrical losses untuk mengurangi panas sekunder yang muncul dari sistem kelistrikan. Sebagai jaminan, manajemen memastikan infrastruktur pusat data yang dipakai sudah tersertifikasi green building LEED Gold, standar internasional yang menilai efisiensi energi dan keberlanjutan bangunan.
Direktur Bisnis Digital Realty Bersama (DRB), Andha Yudha Permana, memperkirakan bisnis data center di Indonesia akan tumbuh pesat seiring meningkatnya adopsi AI. “Pusat data untuk AI di Indonesia saat ini sudah 500 MW, kemungkinan akan double (berlipat ganda) sampai akhir tahun nanti, “katanya kepada awak media yang berkunjung ke CGK11, pada 22 April lalu.
Ketua Umum Ikatan Konsultan Teknologi Informasi Indonesia (IKTII), Teddy Sukardi, juga memastikan penyedia pusat data selalu mencari solusi menekan panas. Menurut anggota Dewan Penasihat Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) ini, beban panas data center bisa juga datang dari penggunaan energi yang tidak efisien. “Tapi tetap ada konsep yang kami pikirkan sebagai mitigasi,” kata dia kepada Tempo.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·