Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis 0,50 poin ke level Rp17.653 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (21/5) pagi setelah Bank Indonesia mengambil langkah agresif meningkatkan suku bunga acuan. Pemulihan mata uang Garuda ini terjadi setelah sempat terdepresiasi tajam hingga menembus rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah modern dalam sepekan terakhir.
Langkah intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing berhasil meredam gejolak nilai tukar yang sempat menyentuh level terendahnya di angka Rp17.719 per dolar AS pada Selasa (19/5). Otoritas moneter memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen demi menjaga stabilitas instrumen keuangan dalam negeri dan memitigasi pelarian modal asing.
Kondisi makroekonomi domestik dilaporkan tetap solid dengan tingkat inflasi April 2026 yang terkendali di angka 2,42 persen. Selain itu, cadangan devisa Indonesia per April 2026 tercatat kokoh sebesar US$ 146,2 miliar atau setara dengan 5,8 bulan impor yang memitigasi risiko gagal bayar utang negara dalam jangka pendek.
Meskipun demikian, kejatuhan nilai tukar yang terlalu cepat dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat kelas menengah seperti pembengkakan harga bahan baku impor dan penundaan renovasi rumah akibat kenaikan harga material bangunan.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) Josua Pardede memaparkan bahwa struktur pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan krisis moneter tahun 1998.
"Sekarang, pondasi makro Indonesia masih relatif lebih kuat bila dibandingkan dengan masa tersebut. Ekonomi masih tumbuh, inflasi masih terkendali, sistem keuangan masih terjaga, dan cadangan devisa masih cukup besar," urai Josua kepada Kontan.
Bantalan cadangan devisa yang kuat dinilai memberikan perlindungan bagi perekonomian nasional, namun fluktuasi nilai tukar tetap diwaspadai karena berpotensi merontokkan kepercayaan pasar.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini didorong oleh sentimen positif global dan domestik.
"Kenaikan suku bunga 'jumbo' oleh BI pada hari Rabu juga masih mendukung rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Penguatan mata uang ini juga dipengaruhi oleh sinyal kemajuan pembicaraan kesepakatan Iran oleh Presiden AS Donald Trump yang menenangkan pasar finansial.
| 20 Mei 2026 | Rp17.685,00 |
| 19 Mei 2026 | Rp17.719,00 |
| 18 Mei 2026 | Rp17.666,00 |
| 13 Mei 2026 | Rp17.496,00 |
| 12 Mei 2026 | Rp17.514,00 |
| 11 Mei 2026 | Rp17.415,00 |
| 8 Mei 2026 | Rp17.375,00 |
| 7 Mei 2026 | Rp17.362,00 |
| 6 Mei 2026 | Rp17.405,00 |
| 5 Mei 2026 | Rp17.425,00 |
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, posisi penutupan perdagangan pada Rabu (20/5) berada di level Rp17.685 per dolar AS sebelum berlanjut menguat pada pembukaan pasar spot Kamis pagi. Bank Indonesia dan pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mengawal volatilitas nilai tukar di pasar guna menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur domestik.
38 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·