Bank Indonesia (BI) dilaporkan semakin mengandalkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Langkah ini diambil sebagai strategi pertahanan di tengah gejolak pasar keuangan global dan domestik.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, nilai outstanding SRBI pada April 2026 melonjak tajam menjadi Rp957,91 triliun. Angka tersebut mencatat kenaikan signifikan dibandingkan posisi Maret yang berada di level Rp831,21 triliun.
Tambahan nilai sebesar Rp126,7 triliun ini menjadi lonjakan terbesar sejak Juli 2024. Momentum kenaikan ini terjadi secara bersamaan dengan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin dalam.
Sepanjang tahun berjalan hingga Selasa (12/5/2026), rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 4,67%. Pada kuartal pertama tahun ini, pelemahan tercatat 1,79%, namun memasuki kuartal kedua, tekanan meningkat hingga 2,93%.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah bukan sekadar volatilitas jangka pendek. Kurs JISDOR bahkan merosot dari Rp16.999/US$ pada Maret menjadi Rp17.378/US$ pada bulan berikutnya.
Pada perdagangan hari ini, mata uang Garuda berada di posisi Rp17.513/US$ setelah melemah 0,58%. Catatan ini merupakan level terlemah rupiah sepanjang sejarah di tengah upaya ekspansi instrumen moneter yang agresif.
Data Bank Indonesia menunjukkan sektor perbankan masih mendominasi kepemilikan SRBI dengan nilai Rp673,90 triliun. Namun, lonjakan kepemilikan investor asing atau non-residen naik drastis dari Rp143,91 triliun menjadi Rp192,17 triliun.
Ketergantungan pada aliran dana asing jangka pendek ini membuat stabilitas rupiah sangat ditopang oleh instrumen berbunga tinggi. Meskipun demikian, BI terpantau sedikit menurunkan yield SRBI menjadi 6,4% dari sebelumnya 6,5% pada lelang Jumat (8/5/2026).
Strategi penawaran yield tinggi ini memicu kekhawatiran terkait potensi tekanan pada pertumbuhan ekonomi nasional. Perbankan cenderung menempatkan likuiditas mereka pada instrumen moneter ini dibandingkan menyalurkannya ke sektor riil melalui kredit.
Pengetatan likuiditas di industri perbankan mulai terlihat pada data uang primer terbaru. Kas fisik di bank umum dan BPR menyusut sekitar Rp35 triliun atau anjlok 24,9% menjadi Rp105,5 triliun.
Penurunan drastis juga terjadi pada giro bank umum di Bank Indonesia yang terkontraksi 22,8%. Saldo tersebut turun dari Rp588,5 triliun menjadi Rp454,2 triliun dalam kurun waktu satu bulan saja.
Kondisi ini selaras dengan operasi sterilisasi yang dilakukan otoritas moneter secara agresif. Nilai pengendalian moneter naik 12,1% menjadi Rp849,3 triliun pada periode April sebagai bagian dari upaya menyerap likuiditas rupiah di pasar.
Sebagai instrumen jangka pendek yang dapat diperjualbelikan di pasar sekunder, SRBI dirancang untuk menarik modal asing. BI kini telah meningkatkan frekuensi lelang menjadi dua kali sepekan, yakni setiap hari Rabu dan Jumat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·