Pemerintah Subsidi Mobil Listrik Guna Redam Dampak Kenaikan Harga Minyak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menyetujui pengalokasian anggaran insentif kendaraan listrik pada Juni 2026 guna mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah dunia. Langkah strategis ini diambil pemerintah menyusul prediksi konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas energi global.

Keputusan tersebut merupakan perubahan sikap dari bendahara negara yang sebelumnya sempat enggan memberikan stimulus pada sektor industri otomotif ini. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, Purbaya menegaskan bahwa perubahan kebijakan ini didasari oleh analisis mendalam mengenai geopolitik di Timur Tengah.

"Karena kita lihat harga minyak dunia kan nggak akan turun. Setelah saya ke AS, saya pelajari cara AS melakukan diskusi dan mendesain term yang diberikan untuk Iran, itu sepertinya desainnya untuk negara yang kalah perang dan pasti akan ditolak oleh Iran, hitungan saya ya. Jadi kelihatannya kalau gitu perangnya masih panjang," kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).

Kekhawatiran terhadap tingginya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) domestik menjadi alasan utama percepatan transisi energi ke listrik. Pemerintah memproyeksikan beban impor akan semakin membebani anggaran negara jika pola konsumsi masyarakat tidak segera dialihkan melalui intervensi kebijakan.

"Konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi. Jadi kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan kan?" tutur Purbaya.

Selain masalah impor, pemanfaatan energi listrik dinilai lebih efisien karena Indonesia memiliki kelebihan pasokan produksi. Purbaya mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 30 persen kapasitas listrik nasional yang tidak terpakai namun tetap menjadi beban biaya bagi negara.

"Itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70%, masih ada 30% listrik yang kita bayar tetapi nggak dipakai. Kalau saya nggak salah ingat ya. Yang jelas ada listrik yang kepakai yang kita bayar, saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil, itu utamanya," ujar Purbaya.

Awalnya, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan mereda pada September 2026 bertepatan dengan momentum pemilihan umum di AS. Namun, melihat dinamika diplomasi saat ini, durasi konflik tersebut diprediksi dapat melampaui perkiraan semula.

"Bisa saja jalan berlanjut terus, jadi kita akan melihat terus. Tetapi dalam jangka beberapa bulan ke depan, ini saya akan menghemat itu," ucap Purbaya.