Bank Indonesia Sebut Konflik Timur Tengah Picu Pelemahan Rupiah

Sedang Trending 38 menit yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami tekanan signifikan hingga menyentuh angka Rp17.500 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Dilansir dari Kompas, Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan mata uang ini dipicu oleh ketidakpastian global yang terjadi sejak Februari 2026.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa situasi geopolitik tersebut memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan internasional. Mayoritas mata uang dunia turut merasakan tekanan yang sama sejak periode awal tahun ini.

Selain menekan nilai tukar, ketegangan di wilayah tersebut juga berimplikasi pada sektor energi. Denny menyebutkan bahwa konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dengan kenaikan mencapai lebih dari 40 persen.

Meskipun kondisi pasar sedang fluktuatif, otoritas moneter tetap optimistis terhadap pemulihan nilai tukar dalam waktu dekat. BI memastikan langkah-langkah stabilisasi terus dilakukan untuk menjaga posisi rupiah di pasar valuta asing.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan turut memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil oleh Bank Indonesia. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan kesiapannya dalam mengendalikan tekanan kurs rupiah yang terus terjadi.

Langkah strategis pemerintah melibatkan intervensi langsung pada pasar keuangan nasional. Purbaya menegaskan upaya menjaga stabilitas kurs dilakukan dengan memanfaatkan skema intervensi di pasar surat berharga melalui penggunaan dana stabilitas obligasi.

Hingga saat ini, koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter terus diperkuat untuk meredam dampak eksternal. Purbaya menyatakan masih menaruh kepercayaan penuh kepada Bank Indonesia dalam mengelola stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.