Pemerintah Brasil resmi mengalokasikan subsidi bahan bakar tambahan senilai 2,9 miliar reais atau sekitar Rp10,15 triliun per bulan guna meredam lonjakan inflasi akibat perang di Iran pada Rabu, 14 Mei 2026. Langkah strategis ini diambil Presiden Luiz Inacio Lula da Silva untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat dukungan politik menjelang pemilihan presiden pada Oktober mendatang.
Penggelontoran dana besar tersebut ditujukan untuk menyubsidi komoditas bensin dan solar, baik hasil produksi domestik maupun produk impor. Kebijakan ini diluncurkan melalui keputusan sementara yang berlaku segera demi menghindari hambatan birokrasi di tingkat legislatif.
Menteri Perencanaan Bruno Moretti memberikan rincian mengenai durasi pelaksanaan program bantuan energi tersebut dalam keterangannya kepada publik.
"Program ini, yang diperkenalkan oleh Lula melalui keputusan sementara pada Rabu, akan berlangsung selama dua bulan dan dapat diperpanjang jika diperlukan," kata Moretti.
Penambahan subsidi ini memperpanjang daftar intervensi fiskal yang telah dilakukan pemerintahan Lula sejak konflik Timur Tengah pecah, yang secara total mencapai 13 miliar reais. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pemerintah sebelumnya telah menghapus pajak biodiesel serta memberikan akses pinjaman khusus bagi maskapai penerbangan nasional.
Sekretaris Eksekutif Kementerian Keuangan Rogerio Ceron menegaskan bahwa kebijakan ekspansif ini tidak akan mengganggu kondisi keuangan negara secara sistemik.
"tidak ada pelanggaran aturan fiskal," kata Ceron.
Peningkatan pendapatan dari pajak sektor minyak akibat kenaikan harga global diklaim menjadi sumber pendanaan yang menutupi biaya keringanan tersebut. Ceron menambahkan catatan mengenai realitas penerimaan negara saat ini.
"kenaikan harga minyak telah meningkatkan pendapatan pajak," kata Ceron.
Intervensi ini juga memberikan ruang bagi perusahaan minyak negara, Petroleo Brasileiro SA atau Petrobras, untuk melakukan penyesuaian harga di tingkat kilang. Berdasarkan data kelompok importir Abicom, harga bensin di kilang Petrobras saat ini masih 73% lebih rendah dari patokan internasional, sementara solar 39% lebih rendah.
Keputusan menggunakan langkah sementara diambil setelah negosiasi dengan Kongres mengalami kebuntuan karena anggota parlemen menuntut perluasan insentif ke sektor agribisnis. Pemerintah memilih jalur cepat agar bantuan subsidi dapat langsung dirasakan masyarakat tanpa menunggu persetujuan legislatif yang berlarut-larut.
34 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·