Malaysia mempertahankan suku bunga acuannya untuk kelima kali berturut-turut, meskipun risiko terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat akibat perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Bank sentral Malaysia yaitu Bank Negara Malaysia mempertahankan overnight policy rate di level 2,75 persen pada Kamis (7/5), sesuai dengan perkiraan seluruh 25 ekonom dalam survei Bloomberg.
Bank sentral menyebut level suku bunga tersebut masih “sesuai dan konsisten dengan prospek stabilitas harga yang berkelanjutan serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.”
BNM pun hanya sekali menyesuaikan suku bunga dalam dua tahun terakhir, yakni memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2025.
“Ketidakpastian terkait durasi dan tingkat keparahan konflik di Timur Tengah akan memengaruhi prospek pertumbuhan dan inflasi domestik. Meski demikian, fundamental ekonomi Malaysia yang kuat akan tetap menopang ketahanan ekonomi,” tulis bank sentral dalam pernyataannya, dikutip dari Bloomberg.
Pertumbuhan ekonomi Malaysia pun melambat menjadi 5,3 persen pada kuartal pertama, seiring dampak perang Iran mulai membebani sejumlah sektor industri utama. Kenaikan harga minyak juga membuat belanja subsidi bahan bakar pemerintah meningkat hingga sekitar 10 kali lipat dibandingkan level sebelum perang.
Meski demikian, Malaysia dinilai menjadi salah satu negara di kawasan yang paling siap menghadapi ketidakpastian akibat guncangan energi tersebut. Tekanan harga di negara itu masih relatif terkendali dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain yang merupakan pengimpor energi bersih. Pada hari yang sama, Filipina bahkan melaporkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang tidak terduga.
Nilai tukar ringgit menguat 0,3 persen terhadap dolar AS ke level 3,91 setelah keputusan suku bunga diumumkan. Penguatan mata uang juga membantu meredam inflasi impor.
Sejak perang Iran pecah, ringgit hanya melemah kurang dari 1 persen terhadap dolar AS dan secara year-to-date justru telah menguat lebih dari 3 persen, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia sepanjang 2026.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·