BI catat "inflow" asing capai 3,3 miliar dolar AS hingga April

Sedang Trending 46 menit yang lalu
instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami 'inflow' yang lebih besar dibandingkan dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang masih mencatatkan 'outflow'

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa investasi portofolio asing mengalami inflow sebesar 3,3 miliar dolar AS sejak awal tahun hingga 30 April 2026, terutama ditopang oleh inflow pada instrumen SRBI.

Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis, mengatakan perkembangan ini terjadi setelah triwulan I 2026 mencatatkan net outflows sebesar 1,7 miliar dolar AS.

Secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd), ia menyebutkan bahwa instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami inflow yang lebih besar dibandingkan dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang masih mencatatkan outflow.

“Inflow dari SRBI year to date itu Rp78,1 triliun, outflow di saham Rp38,6 triliun. SBN, meskipun di minggu-minggu terakhir sudah inflow, tapi year to date-nya Rp11,7 triliun outflow,” kata Perry.

Untuk diketahui, BI tengah menjalankan strategi untuk memperkuat struktur suku bunga SBRI agar menarik inflow asing. Upaya ini ditempuh dalam rangka mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.

Baca juga: BI akan turunkan batas pembelian USD tanpa underlying jadi 25 ribu dolar AS

Baca juga: BI yakin ekonomi sepanjang 2026 tetap kuat, didukung "demand" domestik

Perry menegaskan bahwa bank sentral all out dalam menjaga nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan, termasuk intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri.

“Intervensinya tidak hanya di dalam negeri, tidak hanya tunai dan DNDF, tapi around the world, around the clock. Kami intervensi di pasar luar negeri (offshore) NDF. Di Hong Kong, Singapura, London, New York, kami intervensi. Itu namanya bukan business as usual, itu all out,” kata Perry.

Tak hanya itu, bank sentral juga melonggarkan larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar offshore bagi dealer atau bank-bank tertentu.

Perry memastikan cadangan devisa juga lebih dari cukup untuk mendukung upaya stabilisasi rupiah dengan posisi sebesar 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026.

“Tolong diingat cadangan devisa itu dikumpulkan pada saat ‘panen’ inflow besar. Makanya kita gunakan pada saat ‘paceklik’, pada saat outflow. Jumlahnya (cadangan devisa) besar,” kata dia.

Perry pun menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar tidak hanya dialami Indonesia melainkan juga negara-negara emerging market lainnya seiring dengan tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia.

“Demikian juga suku bunga AS meningkat tinggi, 4,41 persen. Dolarnya juga kuat dan investor asing juga lagi outflow dari seluruh negara emerging market. Kondisi globalnya begitu. Itu faktor-faktor utama dari global terkait pelemahan rupiah,” kata Perry.

Baca juga: BI: Pelemahan kurs rupiah sejalan dengan mayoritas "emerging market"

Baca juga: BI: Kenaikan surplus dagang pada Maret perkuat ketahanan eksternal

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.