BI dan Kemenkeu Bersinergi Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan kembali ke level fundamental seiring meredanya tekanan musiman pada Selasa (12/5/2026). Optimisme ini didorong oleh derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar domestik serta kecukupan likuiditas valuta asing di dalam negeri.

Penguatan mata uang garuda didasari oleh masuknya investasi asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Berdasarkan data yang dilansir dari Money, total aliran modal masuk pada kedua instrumen tersebut mencapai Rp 61,6 triliun sepanjang April 2026.

Kondisi ekonomi nasional yang terus tumbuh serta capaian dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,9 persen secara tahunan per Maret 2026 menjadi fondasi tambahan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan penegasan mengenai proyeksi pergerakan mata uang tersebut.

"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," jelas Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Otoritas moneter berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas dengan memanfaatkan seluruh instrumen yang tersedia di pasar. Hal ini dilakukan guna meredam volatilitas yang terjadi pada nilai tukar secara berkelanjutan.

"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan turut memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil oleh bank sentral. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam mengelola nilai tukar.

"Kita serahkan ke ahlinya, Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan (rupiah) dengan baik," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Meskipun menyerahkan kendali utama kepada Bank Indonesia, Kementerian Keuangan menyiapkan langkah taktis melalui aktivasi Bond Stabilization Fund (BSF). Langkah ini bertujuan menahan pelemahan rupiah dan menjaga imbal hasil SBN agar tetap stabil.

"Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market, itu dengan Bond Stabilization Fund (BSF)," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Intervensi pada pasar surat utang ini dilakukan dengan memanfaatkan Sisa Anggaran Lebih (SAL) guna menarik kembali minat investor asing. Purbaya menekankan pentingnya menjaga tingkat yield agar tidak melonjak terlalu tinggi di tengah fluktuasi pasar.

"Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur (Sisa Anggaran Lebih/SAL), kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), posisi rupiah tercatat berada di level Rp 17.529 per dollar AS. Sinergi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal Kemenkeu diharapkan mampu mempercepat pemulihan nilai tukar ke level yang lebih sehat.