Inflasi Amerika Serikat Tembus 3,8 Persen pada April 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) di Amerika Serikat (AS) menyentuh angka 3,8 persen secara tahunan pada April 2026. Lonjakan ini menjadi level inflasi tertinggi yang tercatat sejak Mei 2023, sebagaimana dikutip dari Money.

Kenaikan harga berbagai barang dan jasa di tingkat konsumen terjadi lebih cepat dibandingkan estimasi sebelumnya. Sektor energi menjadi pemicu utama yang memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi di Negeri Paman Sam tersebut.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengungkapkan bahwa CPI mengalami kenaikan 0,6 persen secara bulanan setelah penyesuaian musiman. Meski angka bulanan sesuai prediksi, tingkat tahunannya justru 0,1 poin persentase lebih tinggi dari konsensus Dow Jones.

Data menunjukkan bahwa inflasi inti, yang mengesampingkan sektor makanan dan energi, masing-masing meningkat 0,4 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan. Angka bulanan ini merupakan yang tertinggi sejak Januari 2025.

Kondisi ini menempatkan inflasi jauh di atas target 2 persen yang ditetapkan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Para pejabat The Fed biasanya memandang CPI inti sebagai cermin yang lebih akurat untuk melihat tren inflasi jangka panjang.

Laju inflasi utama tahunan tercatat naik setengah poin persentase jika dibandingkan dengan posisi Maret. Sementara itu, inflasi inti secara tahunan juga mengalami kenaikan sebesar 0,2 poin persentase.

Sektor Energi dan Pangan Jadi Pendorong Utama

Harga energi yang melonjak hingga 3,8 persen memberikan kontribusi lebih dari 40 persen terhadap total kenaikan inflasi. Di sisi lain, sektor pangan turut menyumbang kenaikan sebesar 0,5 persen.

Dalam rentang 12 bulan terakhir, harga energi telah melambung sebesar 17,9 persen, sementara harga pangan meningkat 3,2 persen. Secara spesifik, indeks bensin mencatatkan kenaikan tahunan yang sangat signifikan mencapai 28,4 persen.

Peningkatan harga pangan di rumah mencapai 0,7 persen, yang menandai lonjakan bulanan terbesar sejak Agustus 2022. Tekanan harga ini tidak hanya terbatas pada sektor energi dan bensin, tetapi merambat ke berbagai bidang lainnya.

Dampak Meluas ke Berbagai Sektor Jasa

Biaya tempat tinggal mengalami kenaikan 0,6 persen setelah sempat melambat pada periode sebelumnya. Fakta ini mengindikasikan bahwa masalah inflasi telah meluas ke luar dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.

Sektor pakaian yang sensitif terhadap tarif naik 0,6 persen, sementara tarif tiket pesawat melonjak 2,8 persen. Dalam setahun terakhir, akumulasi kenaikan tarif penerbangan tersebut telah mencapai angka 20,7 persen.

Kenaikan tarif juga berdampak pada operasional serta perabot rumah tangga yang meningkat 0,7 persen. Sebaliknya, harga kendaraan baru justru turun 0,2 persen dan sektor kendaraan bekas cenderung menunjukkan stabilitas harga.

Penurunan Upah Riil dan Respon Pasar

Laporan ekonomi ini membawa kabar kurang menyenangkan bagi pekerja karena upah rata-rata per jam riil turun 0,5 persen bulan ini. Secara tahunan, nilai upah riil tersebut juga terkontraksi sebesar 0,3 persen.

Pasar bereaksi negatif dengan penurunan kontrak berjangka saham, sementara imbal hasil obligasi pemerintah terpantau naik. Data CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun kini meningkat menjadi sekitar 30 persen.

"Inflasi adalah penghambat utama perekonomian AS saat ini," ujar Heather Long, Kepala Ekonom di Navy Federal Credit Union.

"Ini merugikan warga Amerika. Ada tekanan finansial nyata yang sedang terjadi. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, inflasi menggerogoti semua kenaikan upah. Ini merupakan kemunduran bagi rumah tangga kelas menengah dan berpenghasilan rendah, dan mereka menyadarinya," ujar dia.

Proyeksi Kebijakan Suku Bunga The Fed

Pada April lalu, The Fed memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan. Chris Zaccarelli, Kepala Investasi di Northlight Asset Management, menilai kecil kemungkinan adanya penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

"Dengan inflasi yang bergerak di atas perkiraan dan pasar tenaga kerja tetap stabil, kecil kemungkinan The Fed akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat," ujar dia.

"Dan ada kemungkinan kita akan mulai memperkirakan kenaikan suku bunga untuk tahun depan," ujar Chris Zaccarelli menambahkan.

Namun, James McCann, ekonom senior di Edward Jones, melihat adanya sisi positif dari ketahanan ekonomi AS saat ini. Menurutnya, ekonomi sejauh ini masih tampak tangguh menghadapi berbagai guncangan harga.

"Banyak konsumen telah mendapat manfaat dari pengembalian pajak tahun ini, perekrutan telah meningkat dari tingkat yang hampir stagnan pada tahun 2025, dan bisnis menghasilkan pertumbuhan laba yang kuat," ucap James McCann.

"Ada batasan untuk penyangga ini, tetapi kami memperkirakan, hal itu akan memberikan beberapa jaminan bahwa perekonomian dapat mengatasi guncangan ini," tutur James McCann.