Rencana blokade Selat Hormuz oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi menghentikan aliran minyak Iran sebesar hampir 2 juta barel per hari. Kebijakan ini akan mempersempit pasokan minyak global dan memutus jalur ekonomi vital bagi Iran, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Minggu (12/4/2026).
Perintah blokade Angkatan Laut AS ini dikeluarkan menyusul kegagalan perundingan gencatan senjata selama 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4). Sumber Pendukung #1 menyebut, blokade akan dimulai Senin pukul 10.00 waktu AS.
Sejak konflik di Timur Tengah dimulai pada akhir Februari 2026, lalu lintas kapal di Selat Hormuz berada pada tingkat sangat rendah. Sebagian besar pemilik kapal enggan beroperasi di wilayah yang baru-baru ini menjadi zona perang.
Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, menyatakan bahwa Presiden Trump berusaha menekan Iran untuk mengurangi pengaruhnya atas selat tersebut. "Masalahnya adalah risiko eskalasi saat ini sangat tinggi," kata Leon.
Jika blokade ekspor berhasil, Iran akan kehilangan salah satu sumber ekonomi utamanya. Ini merupakan perubahan drastis dari bulan lalu, ketika AS sempat memberikan pengecualian sanksi yang memungkinkan beberapa pembeli membeli minyak dari Teheran.
Menurut laporan awal pelacakan kapal tanker yang disusun oleh Bloomberg, Iran berhasil mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak mentah dan kondensat per hari pada bulan lalu, dengan Tiongkok sebagai pembeli terbesar.
Kontras dengan itu, pengiriman dari produsen Timur Tengah lainnya anjlok drastis. Pada beberapa waktu di minggu terakhir, setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz memiliki hubungan tertentu dengan Iran. Kapal-kapal lain yang dikenai sanksi juga terpantau melintas.
Sebagai perbandingan, pada masa normal, jumlah transit harian kapal di Selat Hormuz mencapai sekitar 135. Namun, sejak konflik dimulai, lalu lintas kapal ke kedua arah sebagian besar hanya satu digit per hari.
Meskipun ada pembatasan, beberapa kapal non-Iran berhasil melintasi Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Tiga kapal supertanker non-Iran sempat melintas, setara dengan enam juta barel per hari jika aliran ini berkelanjutan.
Beberapa negara telah meminta izin dari Iran untuk melintas. Pakistan menerima izin untuk 20 kapal, melebihi jumlah kapal yang mereka miliki di Teluk Persia. India juga berhasil mengantarkan delapan kapal tanker gas petroleum cair (LPG) melalui selat tersebut.
Beberapa kapal tanker minyak yang menuju Thailand diizinkan untuk keluar, dan negara tersebut berupaya mengeluarkan lebih banyak kapal lagi. Iran juga memberikan pengecualian awal bulan ini kepada Irak, yang disebutnya sebagai negara "saudara".
Meskipun demikian, belum ada peningkatan signifikan dalam jumlah kapal Irak yang melintasi selat ini, meski beberapa kapal yang mengangkut minyak negara tersebut telah melintas.
Sejumlah kecil kapal Yunani juga terus melintasi selat ini, namun dengan mematikan transponder satelit mereka. Dynacom Tankers Management Ltd berhasil melewati Hormuz dengan setidaknya lima kapal menggunakan teknik ini.
Kombinasi antara kapal yang mematikan transponder dan gangguan sinyal mempersulit penegasan berapa banyak kapal yang telah menggunakan metode serupa untuk melintasi jalur air tersebut.
Dampak Pasar Global dan Respons Internasional
Langkah blokade ini diperkirakan akan meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak dan gas alam, seiring meningkatnya risiko gangguan distribusi dari salah satu jalur paling vital di dunia. Harga emas juga merosot tajam akibat kekhawatiran inflasi yang meningkat.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyerukan agar Selat Hormuz dibuka dan menegaskan bahwa Australia tidak diminta bantuan untuk blokade. Ia menekankan keinginan Australia untuk melihat negosiasi berkelanjutan dan konflik berakhir, serta kebebasan navigasi sesuai hukum internasional.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·