BMKG Ingatkan Potensi Perulangan Megatsunami Ambon Setinggi 100 Meter

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya penguatan mitigasi bencana di Maluku dengan menyoroti sejarah kelam megatsunami Ambon yang mencapai ketinggian 100 meter pada 17 Februari 1674. Peringatan ini disampaikan karena rekam jejak gempa dan tsunami di Indonesia merupakan siklus yang berpotensi berulang kembali di masa mendatang.

Peristiwa dahsyat pada abad ke-17 tersebut mengakibatkan kerusakan masif di wilayah timur Indonesia. Berdasarkan data sejarah, guncangan gempa bumi yang sangat kuat memicu longsoran tebing bawah laut yang melipatgandakan energi gelombang hingga meluluhlantakkan pesisir utara Pulau Ambon.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, memberikan penjelasan mengenai lokasi terdampak yang paling parah akibat terjangan air laut tersebut dalam sebuah diskusi daring bertajuk kesiapan tsunami Ambon.

"Kekuatan gempa juga telah mengakibatkan tsunami yang dahsyat utamanya di pesisir Utara Pulau Ambon," kata Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika.

Catatan sejarah dari ilmuwan Belanda, Georg Eberhard Rumphius, menunjukkan bahwa bencana ini termasuk dalam kategori megatsunami yang sangat mematikan. Tragedi tersebut dilaporkan merenggut lebih dari 2.000 nyawa serta menghancurkan banyak bangunan warga, khususnya di sepanjang Pesisir Utara Semenanjung Hitu.

Para ahli menjelaskan bahwa fenomena di Ambon berbeda dengan tsunami biasa yang umumnya hanya dipicu oleh patahan lempeng. Mekanisme submarine landslide atau longsoran bawah laut akibat guncangan gempa kuat menjadi faktor utama yang membuat gelombang mencapai ketinggian ekstrem dalam waktu singkat.

Kondisi geologis ini menyebabkan penduduk di kawasan pesisir pada saat itu kehilangan waktu untuk mengevakuasi diri. BMKG terus menjadikan peristiwa 1674 ini sebagai landasan edukasi agar masyarakat Maluku lebih waspada terhadap karakteristik bencana unik di wilayah mereka.