Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di Indonesia masih didominasi potensi hujan sedang hingga lebat hingga 21 Mei 2026. Kondisi ini dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang tropis yang meningkatkan suplai uap air di tengah masa peralihan musim.
Prakiraan cuaca harian pada Jumat, 15 Mei 2026, menunjukkan mayoritas kota besar di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan berpeluang diguyur hujan dengan intensitas beragam. Fenomena pemanasan permukaan yang intensif pada siang hari dengan suhu mencapai 37,1 derajat Celsius di Sumatra Utara dan Jawa Timur justru memperkuat pembentukan awan konvektif.
"Untuk Pulau Jawa, hujan ringan hingga sedang diprakirakan merata di kota-kota besar, seperti Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya," kata Nazmi, Prakirawan BMKG dalam siaran daring dilansir dari ANTARA dan Liputan6.com.
Nazmi menambahkan bahwa wilayah Indonesia bagian timur seperti Ambon, Manokwari, dan Jayapura juga diprediksi mengalami hujan ringan hingga sedang. Namun, beberapa titik di Sulawesi dan Papua perlu mewaspadai cuaca yang lebih ekstrem.
"Sementara Sorong berpeluang diguyur hujan lebat disertai petir," jelas Nazmi.
Data BMKG menunjukkan bahwa pada periode 15-17 Mei 2026, status siaga hujan lebat berlaku untuk wilayah Kepulauan Riau, Banten, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Papua. Gangguan atmosfer berupa Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial turut memperparah kondisi cuaca di wilayah yang dilalui.
"Kondisi ini membuka peluang masuknya massa udara lebih lembap dari perairan barat Sumatera sehingga kandungan uap air di sebagian wilayah Indonesia bagian selatan berpotensi meningkat kembali," ujar BMKG dalam keterangan resminya melalui laman bmkg.go.id.
Pihak BMKG menjelaskan bahwa pembentukan sirkulasi siklonik di Selat Karimata dan Laut Sulawesi memicu daerah konvergensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Masyarakat diminta waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
"Kombinasi antara pelemahan monsun, meningkatnya suplai uap air, aktivitas gelombang tropis, serta pola belokan dan perlambatan angin berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah terdampak," jelas laporan BMKG dilansir dari Kompas.com.
Memasuki fase 18-21 Mei 2026, intensitas hujan diprediksi sedikit menurun menjadi skala ringan hingga sedang, namun cakupan wilayah terdampak masih meliputi hampir seluruh provinsi. Di Sulawesi Utara, peringatan dini khusus dikeluarkan karena potensi hujan lebat disertai petir berpeluang terjadi di hampir seluruh kabupaten dan kota.
"Ditanggal 15 Mei 2026, Hujan dengan Intensitas sedang hingga lebat, disertai petir/kilat dan angin kencang," tulis BMKG dalam edaran peringatan dini yang dikutip dari RRI.
Laporan tersebut juga merinci kondisi serupa untuk hari-hari berikutnya guna meningkatkan kewaspadaan warga setempat.
"Ditanggal 16 Mei 2026, Hujan dengan Intensitas sedang hingga lebat, disertai petir/kilat dan angin kencang," ungkap edaran tersebut.
Terakhir, BMKG memastikan pola cuaca ekstrem ini masih akan berlanjut hingga akhir periode pemantauan mingguan di wilayah tersebut.
"Ditanggal 17 Mei 2026, Hujan dengan Intensitas sedang hingga lebat, disertai petir/kilat dan angin kencang," tutup laporan BMKG melalui RRI.
Berikut adalah rincian prakiraan cuaca khusus untuk wilayah Manado dan Bitung berdasarkan data terbaru BMKG:
| Manado | Hujan Ringan | 25-29 | 71-95 |
| Bitung | Hujan Sedang | 24-28 | 81-95 |
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·