Tokoh PBNU Berkumpul di PMKNU Cirebon Jelang Muktamar 2026

Sedang Trending 42 menit yang lalu

Sejumlah elit pengurus dan tokoh potensial Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) di Hotel Aston Cirebon pada 13–17 Mei 2026. Forum kaderisasi berjenjang ini dilansir dari Cahaya disebut-sebut sebagai panggung konsolidasi kekuatan politik utama menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU mendatang.

Kehadiran Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menjadi perhatian utama karena bertepatan dengan menguatnya nama-nama kandidat baru di akar rumput. Selain petahana, tokoh lain seperti KH Imam Jazuli, Yusuf Chudlori, Gus Miftah, hingga Gus Ipang juga terlihat mengikuti proses pengkaderan tersebut.

Partisipasi para tokoh ini merupakan langkah krusial mengingat aturan terbaru mewajibkan calon ketua umum dan pengurus harian PBNU untuk lulus PMKNU. Regulasi tersebut tertuang dalam Perkum Nomor 2 Tahun 2025 yang disahkan oleh Rais Aam PBNU guna menggantikan sistem AKNNU yang telah dibekukan.

Aktivis NU Cirebon, Mamang Hairudin, menilai pertemuan di Cirebon tersebut memiliki bobot politik yang lebih besar dibandingkan sekadar agenda organisasi rutin. Menurutnya, keberadaan tokoh lintas kelompok menunjukkan adanya sinyal pergeseran dukungan di internal Nahdliyin.

"PMKNU di Aston ini bukan lagi kaderisasi biasa, ini adalah ‘Muktamar Kecil’ di Cirebon. Kehadiran KH Imam Jazuli, Gus Yusuf dkk di sini adalah sinyal bahaya bagi petahana," kata Mamang Hairudin dalam keterangan tertulis, Jumat (25/5/2026).

Peneliti Insantara, Wildan Efendy, berpendapat bahwa rivalitas menuju Muktamar NU 2026 akan berlangsung sangat kompetitif berdasarkan dinamika yang terjadi di lapangan. Ia menyoroti munculnya poros baru yang dipicu oleh kepatuhan struktural para calon pemimpin dalam mengikuti pendidikan kaderisasi.

"Survei kami menunjukkan dinamisnya suara Nahdliyin. Langkah para calon Ketum mengikuti PMKNU adalah bentuk kepatuhan struktural, namun secara politis, ini memunculkan poros baru," ujar Wildan dalam keterangan tertulis.

Pengamat politik pesantren KH A Mudzakkir memandang langkah Gus Yahya yang hadir secara langsung merupakan strategi untuk mempertahankan pengaruh organisasi. Di sisi lain, ia melihat kehadiran tokoh-tokoh muda memberikan warna baru dalam upaya regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi Islam terbesar tersebut.

"Dia menunjukkan masih berkuasa sekaligus memantau rival. Tapi dengan Gus Yusuf yang fokus ke NU, serta Gus Miftah dan Gus Ipang yang merangkul milenial, panggung kini bergeser ke arah regenerasi muda," kata KH A Mudzakkir.

Persaingan antartokoh NU ini diperkirakan akan semakin terbuka dalam beberapa bulan mendatang sebelum puncak acara Muktamar pada Agustus 2026. Konsolidasi di tingkat wilayah dan pesantren diprediksi terus menguat seiring dengan upaya para calon untuk mengamankan dukungan struktural.