BNPT: PP Tunas tangkal radikalisme yang incar anak lewat gim

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Eddy Hartono mengatakan kehadiran PP Tunas menjadi payung hukum yang penting menjaga anak-anak Indonesia dari radikalisme yang mengincar generasi penerus bangsa lewat gim-gim daring.

Hal itu disampaikannya setelah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengumumkan bahwa platform gim Roblox yang memiliki 23 juta pengguna anak di Indonesia mematuhi secara penuh ketentuan PP Tunas melindungi anak di ruang digital.

"Dalam Undang-Undang nomor 5 tahun 2018, Pemerintah wajib melakukan pencegahan (terorisme). Inilah salah satunya (implementasi PP Tunas). Hari ini kami bersinergi dengan Kementerian Komdigi untuk memperkuat regulasi sehingga harapannya kegiatan propaganda daripada jaringan terorisme ini dapat dimitigasi," kata Eddy di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Kamis.

Baca juga: Pengamat: PP Tunas dorong plaftform digital cegah "child grooming"

Eddy mengatakan komitmen Roblox melindungi anak di ruang digital dengan menutup fitur komunikasi bagi pengguna anak-anak berkat PP Tunas merupakan langkah penting untuk mencegah masuknya paham radikal pada generasi penerus bangsa.

Hal ini dinilainya sebagai tindak lanjut dari temuan BNPT yang pada akhir 2025 menemukan bahwa platform gim itu disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab menyebarkan radikalisme pada anak-anak.

Menurutnya sepanjang 2025 ditemukan 112 anak Indonesia dengan rentang usia di antara 10-18 tahun yang tersebar di 26 Provinsi didoktrin dengan konten-konten terorisme lewat komunikasi yang dibangun melalui platform gim daring.

Baca juga: KPAI: Literasi digital tingkatkan pemahaman risiko "sharenting"

Salah satu platform gim daring yang teridentifkasi oleh BNPT itu adalah Roblox.

Ke depan BNPT berencana untuk memperkuat edukasi dan literasi digital untuk melindungi anak-anak dari ajaran radikal mengenai terorisme.

Harapannya dengan demikian generasi muda Indonesia tidak dapat diperdaya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai penyebar paham yang merusak nilai-nilai bangsa tersebut.

"Ke depan kami akan terus melakukan pencegahan jangan sampai anak-anak kita ini terpapar radikalisasi melalui algoritma platform maupun sosial media," ujar Eddy.

Baca juga: Akademisi ingatkan bahaya "cyber grooming" terhadap anak dan remaja

Baca juga: IDAI tekankan pentingnya ruang aman bagi anak di era digital

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.