Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menjalin kerja sama dan pengakuan jaminan produk halal (JPH) dengan Maroko, Italia, Prancis, Korea Selatan, hingga China.
“Kerja sama ini tidak hanya memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan negara-negara mitra kita, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi produk halal dengan negara mitra untuk masuk dan diterima di pasar internasional,” kata Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Adapun kerja sama pertama adalah dengan Moroccan Institute of Standardization (IMANOR) sebagai pengakuan timbal balik sertifikat halal kedua negara (mutual recognition agreement/MRA).
Lebih lanjut, BPJPH juga menandatangani Perjanjian Pengakuan (Recognition Agreement/RA) dengan sejumlah lembaga halal luar negeri yang telah memenuhi standar Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) Indonesia.
Baca juga: BPJPH komitmen percepat layanan sertifikasi halal bagi SPPG
Beberapa di antaranya yaitu WHAD Italian Halal Certification Center, Global Halal Systems France, GL Halal Center Korea, FUIN Halal Certification Center China, dan Shanghai Museling Testing and Certification.
Haikal mengatakan, upaya ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan dan pengakuan bersama terhadap sistem halal masing-masing negara dan semakin membuka lalu lintas perdagangan produk halal antarnegara.
“Semakin kuat kerja sama yang dibangun, maka akan semakin mudah lalu lintas produk berlangsung. Pada akhirnya, hal ini akan memperkuat sinergi bilateral yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” ujar Haikal.
Baca juga: Indonesia-Malaysia bahas upaya penguatan ekosistem halal kawasan
Ia juga menilai bahwa perkembangan industri halal global saat ini menunjukkan perubahan besar dalam cara dunia memandang halal.
Menurutnya, halal kini tidak lagi dipahami semata sebagai aspek pemenuhan syariat, tetapi telah berkembang menjadi simbol kualitas dan standar global.
“Halal hari ini telah berkembang menjadi simbol quality assurance, healthy product, dan premium standard yang diterima secara global. Dunia kini melihat halal sebagai jaminan kualitas, keamanan, dan traceability produk,” kata Haikal.
Baca juga: RI-Arab Saudi bahas penguatan kerja sama jaminan produk halal
Ia menambahkan, tren tersebut terlihat dari semakin banyak negara yang menjadikan industri halal sebagai bagian penting dalam strategi perdagangan dan pengembangan industri nasional mereka.
“Kita melihat bagaimana negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan bergerak cepat dalam pengembangan industri halal. Ini menunjukkan bahwa halal telah menjadi bahasa universal tentang kualitas dan kepercayaan,” katanya.
Baca juga: BPJPH harmonisasi 1.060 Kode HS produk wajib halal
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
39 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·