Pemerintah AS Gandeng Perusahaan Biotek Sediakan Obat Eksperimental Ebola

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Pejabat Amerika Serikat tengah menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan bioteknologi kecil untuk menyediakan pengobatan eksperimental. Langkah ini diambil sebagai potensi penanganan bagi pasien yang terpapar virus Ebola.

Perusahaan tertutup tersebut, Mapp Biopharmaceutical Inc., berkolaborasi dengan Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA). Kerja sama ini bertujuan menyediakan obat untuk berpotensi digunakan pada pasien, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Mapp yang berbasis di San Diego berfokus pada pengembangan vaksin serta pengobatan untuk penyakit menular. Perusahaan ini sebelumnya memiliki obat Ebola eksperimental bernama ZMapp yang diberikan kepada beberapa pekerja bantuan asal Amerika selama wabah di Afrika pada 2014.

Melalui situs web resminya, Mapp menyatakan bahwa pengembangan ZMapp telah dihentikan. Kendati demikian, pihak perusahaan masih mencantumkan pengobatan tahap awal lain untuk virus tersebut dalam daftar pengembangan mereka.

Obat baru yang sedang disiapkan adalah MBP134, sebuah antibodi monoklonal. Jenis obat ini dirancang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengidentifikasi antibodi dari orang yang terinfeksi, kemudian memproduksinya dalam jumlah besar.

Berdasarkan informasi dari situs resmi perusahaan, obat MBP134 dikembangkan untuk menargetkan semua virus Ebola yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia. Hal ini termasuk spesies virus yang saat ini tengah menyebar di kawasan Afrika.

Dalam uji klinis tahap awal, obat MBP134 dinyatakan aman dan dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh. Namun, efektivitas langsung obat ini terhadap pasien manusia masih belum terbukti secara klinis.

BARDA bertindak sebagai penyandang dana untuk pengembangan lanjutan obat tersebut. Karena pengobatan ini belum mendapat persetujuan resmi, penggunaannya masih memerlukan otorisasi dari regulator dan otoritas kesehatan masyarakat.

Pihak Mapp sendiri menolak memberikan komentar mengenai kapasitas produksi maupun persediaan obat mereka saat ini. Perusahaan menambahkan bahwa ketersediaan dosis yang ada sekarang sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah AS.

Otoritas kesehatan saat ini sedang menghadapi penyebaran jenis Ebola langka di Afrika Tengah. Hingga kini, belum ada pengobatan maupun vaksin yang disetujui secara resmi untuk mengatasi jenis virus tersebut.

Wabah tersebut telah menewaskan sedikitnya 139 orang di Democratic Republic of Congo dan Uganda, menurut data terbaru dari World Health Organization. Selain korban jiwa, ratusan kasus suspek lain juga telah dilaporkan dari wilayah tersebut.

Proses penanganan medis membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Diperkirakan diperlukan waktu berbulan-bulan sebelum vaksin baru siap untuk diuji coba secara langsung kepada manusia.

Pemerintah AS kini sedang membahas potensi vaksin dan pengobatan, termasuk pemanfaatan antibodi monoklonal, bersama para mitra internasional. Hal tersebut disampaikan oleh Satish Pillai, manajer penanganan respons Ebola dari Centers for Disease Control and Prevention, dalam panggilan bersama wartawan pada Rabu.