BRIN kaji potensi tempe untuk dukung penuaan sehat bagi lansia

Sedang Trending 39 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji potensi pangan tempe dan probiotik guna mendukung penuaan sehat atau healthy aging untuk para lansia.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN Iskandar Azmy Harahap dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, menjelaskan bahwa perempuan lansia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki usia harapan hidup lebih panjang dibandingkan laki-laki.

"Pada perempuan lansia, fase menopause menjadi salah satu periode krusial karena penurunan hormon estrogen berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti perubahan mikrobiota usus dan penurunan kepadatan mineral tulang," katanya.

Iskandar menyebut osteoporosis menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di tengah meningkatnya populasi lansia. Selama ini, pengobatan osteoporosis masih banyak mengandalkan terapi konvensional yang memiliki keterbatasan, terutama untuk penggunaan jangka panjang.

Oleh karena itu, BRIN meneliti potensi intervensi berbasis nutrisi melalui pangan fermentasi berbasis kedelai, seperti tempe, yang kaya isoflavon dan dikombinasikan dengan probiotik serta kalsium untuk mendukung kesehatan tulang dan menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Baca juga: Pakar gizi: Tempe punya banyak manfaat bagi kesehatan

"Salah satu yang diteliti adalah potensi pangan fermentasi berbasis kedelai, seperti tempe, dikombinasikan dengan probiotik untuk menjaga keseimbangan mikrobiota dan kesehatan tulang," ujarnya.

Iskandar mengungkapkan hasil penelitian awal menunjukkan bahwa kombinasi nutrisi tersebut memiliki potensi mendukung proses pembentukan sel tulang. Pada uji pra-klinis, konsumsi tempe bersama probiotik juga berkaitan dengan perbaikan status kalsium serta indikator metabolisme tulang.

Selain itu, studi pada perempuan pasca-menopause menunjukkan adanya indikasi bahwa pemberian probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan proses metabolisme tulang.

Meskipun demikian, Iskandar menegaskan bahwa hasil penelitian masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum dapat direkomendasikan secara luas kepada masyarakat.

"Penelitian dari sel, hewan, hingga manusia merupakan proses bertahap sehingga hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasi tanpa validasi yang kuat," ucapnya.

Baca juga: Kandungan gizi tempe kedelai dan 6 manfaat kesehatan luar biasa

Iskandar berharap intervensi berbasis nutrisi dan pemanfaatan pangan lokal dapat menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi tantangan populasi menua di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas hidup lansia di masa depan.

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.