BTN Waspadai Pengetatan Likuiditas Akibat Pelemahan Rupiah

Sedang Trending 2 jam yang lalu

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mengantisipasi munculnya tantangan likuiditas pada industri perbankan nasional akibat tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini pada Rabu (13/5/2026).

Kondisi pasar keuangan saat ini mencatatkan posisi rupiah yang tertahan di level Rp17.500 per dolar AS, sehingga memicu intervensi Bank Indonesia melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan kenaikan imbal hasil mencapai 6,5 persen sebelum terkoreksi ke 6,4 persen.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, Corporate Secretary BTN Ramon Armando memberikan penjelasan mengenai dampak situasi moneter tersebut terhadap persaingan penghimpunan dana di pasar yang diprediksi akan semakin kompetitif.

"Di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil SRBI, BTN melihat adanya tantangan terhadap likuiditas industri perbankan karena kompetisi penghimpunan dana menjadi lebih ketat dan cost of fund berpotensi meningkat," kata Ramon Armando, Corporate Secretary BTN.

Pihak manajemen menilai posisi BTN relatif aman dari gejolak tersebut karena struktur bisnis perusahaan yang lebih banyak berfokus pada sektor pembiayaan perumahan di dalam negeri menggunakan mata uang rupiah serta memiliki paparan valuta asing yang minim.

"Ke depan, BTN akan tetap fokus menjaga likuiditas secara prudent melalui penguatan dana murah, penyesuaian pricing secara selektif, serta tetap mendorong pertumbuhan kredit secara hati-hati dengan mengedepankan kualitas aset dan kemampuan bayar debitur agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," kata Ramon Armando, Corporate Secretary BTN.

Langkah strategis tersebut diambil untuk memastikan keberlanjutan bisnis bank Himbara ini di tengah fluktuasi pasar uang global dan domestik.