China Berhasil Jaga Cadangan Minyak Meski Pasokan Timur Tengah Merosot

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Tiongkok dilaporkan berhasil mempertahankan cadangan minyak mentah dalam jumlah besar di tengah ketidakpastian pasar energi global. Dikutip dari Bloombergtechnoz, ketahanan ini tetap terjaga meskipun arus pengiriman dari Timur Tengah menurun drastis akibat konflik bersenjata yang melibatkan Iran.

Data dari Energy Aspects menunjukkan bahwa total cadangan minyak mentah negara tersebut hanya menyusut kurang dari 1 juta barel sejak perang pecah pada akhir Februari 2026. Angka penurunan ini tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan total cadangan yang diperkirakan mencapai 1 miliar barel.

Stabilitas pasokan ini didukung oleh strategi Beijing yang memberikan lampu hijau bagi kilang negara untuk menggunakan cadangan komersial. Langkah tersebut diambil guna meredam guncangan akibat hilangnya akses pasokan energi dari kawasan Teluk Persia secara mendadak.

Pihak berwenang di China juga mengandalkan peran kilang minyak independen atau yang sering dijuluki sebagai teapots. Perusahaan-perusahaan penyulingan skala kecil ini mengambil alih peran produksi saat kilang besar milik negara memangkas tingkat pengolahan akibat margin keuntungan yang tergerus.

Para operator kecil ini diperintahkan untuk menjaga produktivitas bahan bakar tetap tinggi dengan memanfaatkan minyak mentah dari Iran dan Rusia yang harganya lebih terjangkau. Erica Downs, peneliti senior di Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, memberikan pandangannya terkait fenomena ini.

"Tanpa ‘teapots’, hal ini tidak akan terjadi," kata Erica Downs.

"Karena China tidak mendapatkan seluruh volume pra-perang dari produsen Teluk, barel-barel Iran menjadi semakin penting," ujar Erica Downs.

Lonjakan Impor Minyak Iran

Berdasarkan data awal dari Kpler, volume pembelian minyak mentah Iran oleh China diprediksi akan melonjak hingga menyentuh angka 1,9 juta barel per hari pada bulan ini. Angka tersebut menandai rekor baru dalam kerja sama energi kedua negara di tengah situasi krisis.

Kondisi stok energi di Provinsi Shandong, yang menjadi basis utama kilang-kilang independen, kini mendekati level tertinggi sepanjang tahun 2026. Data Mysteel OilChem mencatat bahwa pemerintah pusat baru saja menambah kuota impor bagi para penyuling swasta tersebut.

Peningkatan aktivitas operasional di Shandong mencapai titik tertinggi dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi kilang negara yang kesulitan menghadapi kenaikan harga minyak mentah dari sumber alternatif seperti Arab Saudi dan Irak.

Ketahanan Stok Bahan Bakar Domestik

Meskipun harga minyak Iran mengalami kenaikan premium dibandingkan patokan Brent, harganya tetap jauh lebih kompetitif daripada minyak dari wilayah yang tidak terkena sanksi internasional. Perusahaan intelijen Vortexa melaporkan ada sekitar 160 juta barel minyak Iran yang saat ini tengah dalam perjalanan di laut.

Efek dari kebijakan ini terlihat pada ketersediaan bahan bakar di pasar domestik China. Stok bensin dan solar di negara itu sempat menurun pada pertengahan Maret, namun kembali melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada awal bulan ini.

Namun, ketergantungan pada kilang kecil memiliki batasan karena mereka hanya menguasai seperlima dari total kapasitas penyulingan nasional. Gangguan berkepanjangan akibat blokade di Selat Hormuz oleh pasukan Amerika Serikat tetap menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan aliran pasokan minyak dari Teheran ke Beijing ke depannya.